Penyusunan kurikulum di Universitas Islam Indonesia diatur dalam Peraturan Rektor Nomor 2/PR/REK/BPA/2015 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum. Secara garis besar, struktur kurikulum terdiri atas sejumlah mata kuliah untuk menuju capaian pembelajaran ranah sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus. Selain berdasarkan VMTS program studi, aspek lain yang ditekankan dalam pengembangan kurikulum adalah keunikan lokal (local genius) program studi. Local genius ini merupakan ciri khas atau pembeda Program Studi Kimia dengan program studi kimia di universitas lain.
Dalam penyusunan kurikulum 2017, digunakan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) beserta beberapa peraturan, diantaranya:
1. Undang-undang Nomer 3 Tahun 2015 tentang sistem pendidikan nasional.
2. Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen.
3. Peraturan presiden nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.
4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 73 Tahun 2013 tentang penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia bidang Pendidikan Tinggi.
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 49 Tahun 2014 tentang Standard Nasional Pendidikan Tinggi.
6. Statuta Universitas Islam Indonesia Th. 2009.
7. Peraturan Rektor UII No. 02/PR/REK/BPA/VI/2015 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum di Lingkungan Universitas Islam Indonesia.
8. Dokumen Kurikulum Komprehensif Ulil Albab, 2017.
Dalam merumuskan capaian pembelajaran, Program Studi Kimia menggunakan berbagai referensi dari berbagai sumber antara lain Himpunan Kimiawan Indonesia (HKI), Badan Akreditasi Royal Society of Chemistry (RSC), dan studi eksternal mahasiswa, serta pemangku kepentingan yang terdiri dari dosen, mahasiswa, alumni dan stakeholder dalam hal ini lembaga/institusi tempat pengguna lulusan serta lembaga/institusi yang menjalin kerjasama (MoU) dalam rangka Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Dokumen kurikulum yang dihasilkan oleh program studi dikaji oleh Badan Pengembangan Akademik (BPA) untuk kemudian disahkan oleh Rektor. Kualitas kurikulum program studi juga dievaluasi pihak eksternal yang bereputasi dalam hal ini, karena Program Studi Kimia berada dalam posisi proses akreditasi internasional dari Royal Society of Chemistry (RSC), penyusunan Kurikulum Kimia 2017 juga meminta pertimbangan dari pihak RSC.
Karakteristik kurikulum yang mengacu RSC dinilai dari persyaratan kunci (key requirements) dari kurikulum yang mencakup beberapa hal di antaranya:
a. Kedalaman dan keluasan materi yang disajikan di dalam perkuliahan. Kedalaman materi ditunjukkan dengan cakupan silabus dari mata kuliah-mata kuliah kompetensi dasar kimia meliputi mata kuliah-mata kuliah dalam rumpun Kimia Fisika, Kimia Organik, Kimia Anorganik, Kimia Analitik dan Biokimia. Kedalaman materi diukur dari indikator capaian pembelajaran yang ditunjukkan dari contoh soal yang harus dikuasai oleh mahasiswa/peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini, Program Studi Kimia menggunakan tambahan sistem pembelajaran tutorial di luar jam perkuliahan regular.
b. Keluasan materi. Keluasan materi di dalam kurikulum ditunjukkan dengan berbagai mata kuliah pilihan yang bersifat pengembangan dan berorientasi pada industri/teknologi di masa depan.
c. Skill lulusan. Lulusan Program Studi Kimia harus memiliki skill laboratorium yang sangat memadai untuk menunjang bidang kerja yang sesuai.
Masukan dari RSC diperoleh melalui konsultasi kurikulum jarak jauh (via Skype) dengan Lembaga akreditasi RSC pada tanggal 29 Januari 2017. Masukan-masukan yang diperoleh antara lain sebagai berikut:
1. Penambahan jumlah praktikum sehingga total jam praktikum adalah sebanyak minimal 300 jam. Hal ini berkaitan dengan pengayaan skill lulusan.
2. Penambahan bobot untuk tugas akhir mahasiswa.
3. Beban semester akhir mahasiswa adalah minimal 75% dari total jam kegiatan.
4. Adanya pengayaan materi kompetensi kimia meliputi: Kimia Fisika, Kimia Anorganik, Kimia Analitik, Kimia Organik dan Biokimia. Hal ini dicapai melalui tutorial.
5. Mata kuliah pilihan yang menggambarkan keluasan topik kimia dalam berbagai aplikasi seiring perkembangan ilmu pengetahuan kimia secara internasional.