Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, bahan kajian, maupun bahan pelajaran serta cara penyampaiannya, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi.
Kurikulum harus memuat standar kompetensi lulusan yang terstruktur dalam kompetensi utama, pendukung dan lainnya yang mendukung tercapainya tujuan, terlaksananya misi, dan terwujudnya visi program studi. Kurikulum memuat mata kuliah/modul/blok yang mendukung pencapaian kompetensi lulusan dan memberikan keleluasaan pada mahasiswa untuk memperluas wawasan dan memperdalam keahlian sesuai dengan minatnya, serta dilengkapi dengan deskripsi mata kuliah/modul/blok, silabus, rencana pembelajaran dan evaluasi.
Kurikulum harus dirancang berdasarkan relevansinya dengan tujuan, cakupan dan kedalaman materi, pengorganisasian yang mendorong terbentuknya hard skills danketerampilan kepribadian dan perilaku (soft skills)yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi.
Saat ini Program Studi Kimia menggunakan kurikulum yang disebut Kurikulum Kimia 2017 yang ditetapkan sesuai SK Nomor: 928/SK-Rek/DA/VIII/2017. Dalam proses penyusunannya, Program Studi Kimia FMIPA UII menggunakan panduan penyusunan kurikulum Universitas Islam Indonesia yang mengacu pada:
1. Undang-undang Nomer 3 Tahun 2015 tentang system pendidikan nasional;
2. Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen;
3. Peraturan presiden nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia;
4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 73 Tahun 2013 tentang penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia bidang Pendidikan Tinggi;
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 49 Tahun 2014 tentang Standard Nasional Pendidikan Tinggi;
6. Statuta Universitas Islam Indonesia Th. 2009;
7. Peraturan Rektor UII No. 02/PR/REK/BPA/VI/2015 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum di Lingkungan Universitas Islam Indonesia;
8. Dokumen Kurikulum Komprehensif Ulil Albab, 2017.
Selain acuan tersebut di atas, penyusunan kurikulum PS. Kimia juga mempertimbangkan masukan dalam rangka akreditasi dari Royal Society of Chemistry (RSC).
Perubahan kurikulum pada intinya berkaitan dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Program Studi Kimia di mana secara umum akan berpengaruh pada kualitas alumni program studi. Alur proses penyusunan kurikulum disajikan melalui Gambar 1.


Gambar 1. Alur proses penyusunan kurikulum Program Studi Kimia 2017

Relevansi kurikulum berorientasi masa depan
Penyusunan kurikulum dan pemilihan mata kuliah-mata kuliah di dalam kurikulum Kimia 2017 disusun berdasarkan referensi yang berkaitan perkembangan kimia yang berorientasi masa depan. Kurikulum mengambil referensi beberapa sumber antara lain American Chemical Society dan Royal Society of Chemistry, perkembangan ilmu kimia mengarah pada bidang-bidang sebagai berikut:
1. Energi. Energi merupakan topik yang sangat krusial. Keterbatasan sumber daya energi yang berkaitan dengan tidak dapat diperbaharuinya sumber energi fosil mendorong sejumlah topik energi baru dan terbarukan. Kimia dapat mendukung perkembangan teknologi energi melalui berbagai topik berkaitan dengan energi terbarukan seperti biofuel, biogas dan syn gas serta teknologi baterai.
2. Material dan nanomaterial. Perkembangan teknologi informasi mendorong sejumlah penelitian nanomaterial yang menuntut bidang-bidang kimia anorganik, kimia organik, kimia fisika dan kimia analitik untuk dapat berkontribusi baik dalam intensifikasi proses sintesis, analisis maupun aplikasi yang luas dari nanomaterial. Termasuk di dalam kelompok kajian ini adalah sintesis polimer baru dengan sifat karakteristik yang handal sesuai bidang aplikasi.
3. Kimia medisinal. Masih berkaitan dengan material dan nanomaterial, kimia medisinal juga berkembang pesat seiring dengan perkembangan aplikasi nanomaterial di bidang medis. Beberapa kajian terapi menggunakan obat baru dengan pendekatan nanoscience merupakan hal yang sangat berkembang pesat. Dukungan kimia komputasi untuk bidang ini sangat dibutuhkan.
4. Kimia organik sintesis. Kimia organik sintesis dengan desain jalur reaksi baru yang lebibh singat dan berdampak serta berbagai strategi reaksi diperlukan dalam produksi senyawa organik penting bagi berbagai aplikasi termasuk aplikasi medis, kosmetika, toiletries dan bahan idustri lain. Teknik retrosintesis, sintesis fine chemicals dengan stereokimia sangat khusus melibatkan strategi reaksi tertentu. Teknik-teknik ramah lingkungan seperti teknik iradiasi gelombang mikro, teknik sonifikasi dan teknik cepat lain juga merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kajian sintesis.
5. Makrosiklik dan supramolekul. Kebutuhan industri berbasis senyawa makrosiklik dan supramolekul membutuhkan pengetahuan mendasar dalam mekanisme reaksi senyawa organik dan pengetahuan material yang menyeluruh melibatkan berbagai teknik instrumentasi.
6. Sensor. Deteksi polutan di lingkungan, bahan berbahaya dan beracun pada bahan pangan danpertanianserta deteksi penyakit pada tubuh manusia atau hewan adalah contoh aplikasi praktis dari sensor. Dasar pengembangan teknologi ini adalah elektrokimia
7. Kimia analitik dengan perspektif kimia hijau. Beberapa teknik analisis baik spektroskopi, kromatografi maupun teknik lain saat ini berkembang kearah metode analisis yang cepat, akurat dan ramah lingkungan. Termasuk di dalam kelompok ini adalah teknik instrumentasi, spektroskopi unggul dan teknik pemisahan komponen dalam suatu proses industri dengan kinerja tinggi.
8. Kimia lingkungan. Berbagai kajian efek bahan berbahaya dan beracun serta dampaknya secara jangka panjang merupakan kajian penting dalam kimia dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan.
9. Kimia pertanian dan bahan pangan. Kajian bahan-bahan pendukung pertanian seperti pupuk, pestisida serta bahan pangan fungsional merupakan kajian yang berkembang dalam kelompok kajian ini.
Di sisi lain, globalisasi menuntut lulusan Program Studi Kimia dapat berperan dan bersaing tidak hanya di kancah nasional namun juga internasional. Pola pengembangan lulusan berdaya saing global sesuai dengan kompetensi bidang ilmu diikuti keterampilan (skill) komunikasi dan teknologi informasi merupakan suatu kebutuhan. Dalam mengantisipasi hal-hal tersebut, perguruan tinggi harus mampu mengimbangi dan mengikuti tantangan terkait.

Relevansi dengan Tuntutan dan Kebutuhan Stakeholders
Dalam rangka memenuhi revelansi dan tuntutan serta kebutuhan stakeholder, penyusunan kurikulum juga mempertimbangkan berbagai masukan dari stakeholder. Pada tanggal 6-8 Februari 2017 dilaksanakan workshop dalam rangka menjaring masukan dari berbagai stakeholder. Beberapa perwakilan stakeholder antara lain dari balai penelitian/ LIPI Gunung Kidul, Balai Konservasi Borobudur, Badan tenaga atom Nasional (BATAN), wirausahawan, Lembaga Pendidikan serta perguruan tinggi.
Secara umum masukan dari stakeholder dalam penyusunan Kurikulum Kimia 2017 disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Masukan stakeholder dalam penyusunan Kurikulum Kimia 2017

Masukan dari Aspek Kurikulum/ Pembelajaran yang menjadi sorotan Masukan
Balai Konservasi Borobudur Penguasaan materi dasar kimia dan kaitannya dengan ilmu dasar yang lain Sangat diperlukan pengayaan materi-materi dasar kimia pada kurikulum 2017 dengan tidak mengabaikan perkembangan teknologi dan industri di bidang kimia pada masa yang akan datang
BATAN Yogyakarta Pembelajaran dikaitkan dengan topik riset Kurikulum perlu dikembangkan sesuai dengan topik penelitian yang menjadi arah pengembangan program studi yakni dalam bidang: Minyak atsiri, material dan elektrokimia untuk energi dan lingkungan serta sintensis senyawa non-atsiri untuk kesehatan dan pangan.

Perlu adanya mata kuliah standardisasi yang mencakup pengetahuan dan pemahaman terhadap beberapa jenis standardisasi yang berlaku di industri/ institusi pengujian baik secara nasional maupun internasional.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi  (BPPTKG) Skill lulusan Perlu diperhatikan skillbaik ketrampilan praktik kekimiaan maupun soft skill dari mahasiswa. Bagi pengguna lulusan, hal tersebut dinilai sangat penting.

Perlu adanya kerjasama dengan lembaga penelitian dan universitas lain dalam rangka pengayaan isi dan pencapaian kompetensi mahasiswa.

LIPI Ketrampilan komunikasi ilmiah Ketrampilan komunikasi ilmiah dan komunikasi menggunakan Bahasa asing terutama Bahasa Inggris perlu ditingkatkan.

 

Secara berkesinambungan, PS. Kimia juga secara rutin dan terprogram meminta masukan untuk perbaikan kurikulum dari para alumni yang bekerja di sektor industri, perguruan tinggi, sekolah maupun wirausahawan.

Kesesuaian dengan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran
Kurikulum Program Studi Kimia disusun sebagai pengejawantahan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran (VMTS) Program Studi Kimia dan merujuk pada VMTS Fakultas dan Universitas. Melalui Kurikulum Kimia 2017, VMTS Program Studi Kimia diterjemahkan ke dalam capaian pembelajaran program studi. Universitas berfokus pada perumusan capaian pembelajaran ranah sikap dan keterampilan umum, sedang program studi berfokus pada pendefinisian capaian pembelajaran ranah pengetahuan dan keterampilan khusus. Kesesuaian kurikulum dengan VMTS fakultas dan prodi disajikan pada Gambar 2.


Gambar 2. Peta penerjemahan VMTS program studi, fakultas dan universitas ke dalam capaian pembelajaran