Program Studi Kimia - Fakultas MIPA - Universitas Islam Indonesia - Konsentrasi Analisis Industri dan Lingkungan - Konsentrasi Kewirausahaan Kimia - Konsentrasi Minyak Atsiri

You are here: HOME arrow ARTIKEL arrow Kimia Analitik
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Prosedur dan Instrumentasi dalam Analisis Spektrofotometer UV-Vis Print E-mail
Monday, 14 February 2011

Kata Kunci: Sinar Tampak, sumber radiasi, Instrumen UV, Spektrofotometer UV, Visual Colorimetri
 Metode analisa kuantitatip didasarkan pada absorpsi radiasi oleh suatu unsur yang mengabsorpsi dan melibatkan pengukuran intensitas cahaya atau kekuatan radiasi.Kita sekarang mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi kekuatan radiasi dari cahaya yang dipancarkan melalui media absorsi.
Adapun Prosedur Sederhana Pemakaian Spektrofotometer UV-Vis sebagai berikut:
1. Sampel dilarutkan dalam pelarut
2. Sampel dimasukkan dalam kuvet
3. Dalam keadaan tertutup, atur T = 0% (dalam beberapa instrumen, ini disebut 0%T. Dark current control)
4. Dalam keadaan terbuka, atur T = 100% (A=0). Gunakan cell penuh dengan pelarut murni
5. Masukkan sampel dan ukur %T (atau A)

Pengaruh cell window pada nilai A

Pada cell windows yang mengkilap, kira-kira 2% dari radiasi yang masuk akan hilang oleh pantulan dan pembiasan pada setiap permukaan, maka kuvet kosong akan mengurangi P0 dari 100% mendekati 94%. Oleh karena itu untuk mengganti kehilangan tersebut perlu mengatur 100% T ( A= 0) dengan menggunakan cell yang sama dipenuhi pelarut murni.

Fitur Instrumen single beam

1. biaya rendah
2. tujuan dasar untuk mengukur A, %T atau C pada panjang gelombang terpisah
3. 100% T (0A) harus diatur pada setiap panjang gelombang
4. Tidak dapat digunakan untuk meneliti spektra

Fitur Instrumen double beam

1. Digunakan untuk meneliti spektra pada panjang gelombang lebih tinggi (190-800nm)
2. Dapatmenghasilkan spektra A vs ?, %T vs ?, atau spektra derivatif 1st, 2nd , 3rd, 4th .
3. Dapat digunakan untuk pengukuran A atau %T saja pada panjang gelombang tertentu.

Sumber Radiasi


(a) Lampu Tungsten stabil, murah, 350-1000nm


(b) Lampu halogen tungsten (quartz-iodine lamp) sama dengan lampu tungsten tetapi memiliki output lebih baik pada daerah 300-400nm


(c) Lampu Deuterium Arc mahal, masa kerja singkat, 190-400nm

Instrumentasi

Persyaratan Umum
Persyaratan umum dalam pengukuran absorbsi oleh suatu larutan ditunujukkan oleh Gambar 15.16


Gambar 15.16. Skema bagian-bagian dalam spektrofotometer

Dalam visual colorimetri, umumnya digunakan cahaya putih tiruan atau alami sebagai sumber cahaya, dan penentuan dilakukan dengan menggunakan pengamatan mata dengan instrumen yang sederhana disebut visual comparator, atau dengan menggunakan suatu rangkaian larutan acuan yang diketahui konsentrasinya. Ketika mata digantikan oleh photoelectric ( dengan begitu mengeliminasi kesalahan dalam kaitannya dengan karakteristik pengamat) dan ada alat pembaca hasil maka instrumen ini disebut colorimeter. Suatu colorimeter biasanya bekerja pada range (cakupan) panjang gelombang yang terbatas dari cahaya yang diperoleh melewatkan cahaya putih melalui saringan yang berwarna, yang memancarkan range panjang gelombang yang kecil ( sekitar 50nm). Instrumen seperti ini disebut juga filter photometer.


Gambar 15.17. Skema bagian-bagian dalam spektrofotometer

Spektrofotometer cahaya menggunakan kisaran (range) panjang gelombang yang lebih kecil (10 nm atau kurang). Tentu saja akan membutuhkan instrumen yang lebih rumit dan tentunya lebih mahal. Juga tersedia instrumen yang dapat bekerja pada daerah sinar ultraviolet dan dan infra merah.
Keuntungan utama dari metode ini adalah adanya alat sederhana untuk menentukan unsur dengan konsentrasi yang sangat rendah. Secara umum batas atas dari metode ini adalah penentuan dari adanya unsur kurang dari 1 atau 2 persen. Bagaimanapun, batas yang lebih rendah adalah mikrogram per liter


Gambar 15.18 Bagian-bagian dalam alat Spectronic 20

untuk banyak unsur. Keuntungan yang lain dari metode ini adalah adalah sangat mudah diotomatiskan sedemikian hingga sampel dalam jumlah besar dapat diproses secara otomatis dalam waktu singkat.

Read more...
 
Metode Mohr Print E-mail
Thursday, 20 January 2011
Kata Kunci: Metode Mohr, titrasi argentometri
Salah satu jenis titrasi pengendapan adalah titrasi Argentometri. Argentometri merupakan titrasi yang melibatkan reaksi antara ion halida (Cl-, Br-, I-) atau anion lainnya (CN-, CNS-) dengan ion Ag+ (Argentum) dari perak nitrat (AgNO3) dan membentuk endapan perak halida (AgX).

Konstanta kesetimbangan reaksi pengendapan untuk reaksi tersebut adalah ; Ksp AgX = [Ag+] [X-]

Gambar 7.1. Kurva titrasi Argentometri

METODE MOHR :
Prinsip :
AgNO3 akan bereaksi dengan NaCl membentuk endapan AgCl yang berwarna putih. Bila semua Cl- sudah habis bereaksi dengan Ag+ dari AgNO3,, maka kelebihan sedikit Ag+ akan bereaksi dengan CrO42- dari indikator K2CrO4 yang ditambahkan, ini berarti titik akhir titrasi telah dicapai, yaitu bila terbentuk warna merah bata dari endapan Ag2CrO4.

Reaksinya:

Tingkat keasaman (pH) larutan yang mengandung NaCl berpengaruh pada titrasi. Titrasi dengan metode Mohr dilakukan pada pH 8. Jika pH terlalu asam (pH < 6), sebagian indikator K2CrO4 akan berbentuk HCrO4-, sehingga larutan AgNO3 lebih banyak yang dibutuhkan untuk membentuk endapan Ag2CrO4. Pada pH basa (pH > 8), sebagian Ag+ akan diendapkan menjadi perak karbonat atau perak hidroksida, sehingga larutan AgNO3 sebagai penitrasi lebih banyak yang dibutuhkan.

STANDARDISASI LARUTAN AgNO3 DENGAN LARUTAN STANDARD NaCl (MENGGUNAKAN METODE MOHR).

Cara Kerja :

1. Siapkan larutan NaCl 0,1000 N sebanyak 1000 mL dengan cara melarutkan 5,80 gram NaCl p.a (telah dikeringkan dalam oven 110oC selama 1 jam) dengan aquades di dalam labu ukur 1000 ml.
2. Siapkan larutan AgNO3 0,1000 N sebanyak 500 mL dengan cara melarutkan 9,00 gram AgNO3 dengan aquades di labu ukur 500 mL.
3. Ambil 25,00 mL NaCl dengan pipet volume, tuangkan ke dalam erlenmeyer 250 ml, tambah 1,0 mL larutan K2CrO4 2% sebagai indikator.
4. Titrasi dengan larutan AgNO3 yang telah disiapkan sampai pertama kali terbentuk warna merah bata.
5. Percobaan diulang 3 kali
6. Hitung normalitas AgNO3 dengan persamaan :


PENENTUAN KADAR NaCl DALAM GARAM DAPUR
Tujuan :
Menetapkan kadar NaCl dalam garam dapur dengan cara menstandardisasi larutan garam dapur dengan larutan standar AgNO3 menggunakan metode Mohr (Garam dapur telah dikeringkan didalam oven selama 1 jam dengan suhu 1100C)

Cara Kerja :
1. Larutkan 1,00 gram garam dapur dengan aquades di dalam labu ukur 250 mL.
2. Ambil 25,00 mL larutan garam dapur tersebut, tuangkan ke dalam erlenmeyer 250 mL, tambahkan 1,0 mL larutan K2CrO4 2% sebagai indikator.
3. Titrasi dengan larutan standar AgNO3 sampai terbentuk warna merah bata.
4. Percobaan diulang 3 kali
5. Hitung kadar NaCl dalam garam dapur.


FP = faktor pengenceran, dalam prosedur ini 250/25

PENENTUAN KADAR KLORIDA DALAM AIR LAUT
Tujuan :
Menentukan kadar ion klorida dalam air laut dengan cara menstandardisasi larutan air laut dengan larutan standar AgNO3.

Cara Kerja :
1. Larutkan 5,00 mL sampel air laut dengan aquades ± 25 mL didalam erlenmeyer 250 mL
2. Tambahkan 1,0 mL larutan K2CrO4 2% sebagai indikator
3. Titrasi dengan larutan standar AgNO3 sampai pertama kali terbentuk warna merah bata.
4. Percobaan diulang 3 kali
5. Hitung molaritas (M) ion khlorida dalam air laut.
Last Updated ( Thursday, 20 January 2011 )
Read more...
 
Spectroscopy infra merah membantu diagnosis kanker Print E-mail
Wednesday, 01 September 2010

Kata Kunci: algoritma genetic, infra merah, spectroscopy

 Suatu algoritma genetic yang dikembangkan oleh para ilmuwan Inggris dapat membantu penggunaan spectroscopy infra merah (IR) pada diagnosis kanker.
Spectroscopy IR merupakan suatu metode yang tidak merusak dalam penganalisaan sel, jaringan dan zat cair gas yang telah digunkan untuk mendeteksi penyakit berbeda dan tingkatan penyakit berbahaya pada prostate yang terinfeksi, cervical dan jaringan usus besar. Namun beberapa metode untuk memproses sel-sel sebelum analisa tidaklah bersifat standard  dimana melalui laboratorium yang berbeda-beda, yang dapat membuat hasilnya sulit diinterpretasikan oleh yang tidak spesialisasinya di rumah sakit itu sendiri.

Kerja sama yang dipimpin oleh Peter Gardner pada University of Manchester telah memeriksa tanda-tanda IR dari kanker prostate dengan menggunakan sel-sel dari sumber yang sama didalam tubuh. Dengan pentransformasian sel-sel secara biologis dan kimiawi, para peneliti menirukan perkembangan tumor dan menemukan bahwa perbedaan antara tanda-tanda sel dengan tingkah laku tumor yang berbeda sangatlah sulit sekali.
Gardner mengembangkan suatu algortma genetic – suatu program computer yang memelajari dan mengoptimalkan larutan – untuk memproses data IR dari sel-sel sebelum dianalisa. Mereka menggunakan 50 algoritma genetic bebas yang dikerjakan untuk mengoptimalkan sejumlah spectra terklasifikasi dengan tepat. Dengan metode ini, mereka dapat memisahkan keluarga dari sel-sel terkait yang dekat ini dengan akurasi tingkat tinggi.
Max Diem, seorang ahli pada diagnosis spectral dari Northeastern University di Boston, Amerika Serikat, mengatakan makalah ini merupakan ’suatu aplikasi yang memelopori teknologi berkembang baru–baru ini, dan and menguraikan secara singkat tenaga yang mendiskriminasikan jalur sel-sel kanker dari tingkat penyerbuan berbeda oleh metode spektral’.
‘Tujuannya adalah untuk mengidentifikasikan beberapa tumor yang kelihatannya akan menyebar,’ jelas Gardner, dan menambahkan bahwa dengan pekerjaan yang lebih lanjut, pengidentifikasian tanda-tanda IR akan menjadi alat yang tidak terkira harganya yang dapat digunakan untuk membantu keputusan medis mengenai pengobatannya. ‘Pada saat ini, hal ini melampaui bukti dari tingkat prinsip yang ada namun belumlah siap untuk pengujian medis secara penuh,’ simpulnya.

Amaya Camara-Campos

Last Updated ( Wednesday, 01 September 2010 )
Read more...
 
Mendeteksi Parasit Print E-mail
Thursday, 19 August 2010

Kata Kunci: cara mendeteksi parasit, mendeteksi parasit, parasit

 Berita Pertemuan ACS: Pengujian yang cepat dan murah dengan menggunakan pencelupan arsenic guna mengidentifikasikan penyakit parasitis

Elizabeth K. Wilson

SINAR YANG MEMATIKAN Suatu celupan yang berisi (kiri), yang bersinar saat disinari sinar UV, menandakan keberadaan parasit yang mematikan.
Suatu pengujian penyinaran yang baru sedang dikembangkan oleh para peneliti pada SRI International, di Menlo Park, Calif., dapat mendeteksi dengan sangat murah dan hanya dalam hitungan beberapa menit tentang keberadaan keluarga parasit yang menyebabkan beberapa penyakit yang mematikan.

Keluarga Trypanosomatidae dari parasit menyebabkan penyakit Chagas di Amerika Tengah dan Selatan, penyakit susah tidur di Afrika, dan leishmaniasis bagi jutaan orang di penjuru dunia. Parasit ini juga menyebabkan penyakit yang dinamakan nagana pada hewan ternak dan kuda.
Pengujian akhir-akhir ini membutuhkan biaya yang mahal dan analisa darah yang membutuhkan waktu yang lama atau pengujian kadar logam pada antibodi. Ahli kimiawi SRI medicinal yaitu Ellen D. Beaulieu dan Mary Tanga mengumumkan pada konferensi press pada pertemuan nasional ACS di San Francisco bahwa kelompok mereka merekayasa keluarga arsenic dari celupan dan mengidentifikasikan ada tiga yang mengikat pada sulfur dari kelompoknya pada peptide yang unik terhadap parasit trypanosomatid. Celupan komplek peptida kemudian bersinar pada sinar ultraviolet.
Dalam jangka waktu lima tahun, tim ini berharap memiliki pengujian “dipstick” yang murah dan mudah ditransportasikan pada Negara miskin dan sedang berkembang. Beaulieu menjelaskan bahwa penyakit tersebut menempati urutan kedua setelah malaria pada kasus jumlah kematian dari penyakit parasit di seluruh dunia.
Last Updated ( Thursday, 19 August 2010 )
Read more...
 
Sumbangan Metrologi untuk Peradaban Print E-mail
Tuesday, 20 July 2010

 Dengan membaca sepintas lalu judul di atas, terbesit beberapa pertanyaan yang mungkin memotivasi pembaca rela meluangkan waktu untuk terus melanjutkan bacaan sederhana ini.
Pertanyaan sederhana yang biasa saya temukan adalah “Apa sih metrologi itu? yang dimaksud mungkin meteorologi kali…” Pertanyaan ini timbul boleh jadi karena kosakata metrologi hanya dikenal dikalangan akademisi atau institusi tertentu. Padahal setiap kali kita membilang selalu memerlukan ukuran dan takaran guna menggambarkan nilai kandungannya.
Sebagai contoh begini, ibu belanja beras 2 kilogram dan minyak 1 liter di Pasar Rebo yang berjarak 3 kilometer dari rumah dan ditempuh dengan sepeda motor hanya 20 menit. Satuan untuk menakar bilangan-bilangan tersebut adalah bagian penting dalam dunia metrologi dan tidak bisa tidak untuk dihindarkan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian bagi yang terbiasa dengan kosakata metrologi yaitu mereka yang sudah dikenalkan dengan pelajaran Fisika semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (Kelas 7) pada Bab. Besaran dan Satuan  akan bertanya, sumbangan apa yang dapat metrologi berikan bagi peradaban? Pertanyaan ini mungkin menarik bagi mereka karena yang biasa mereka hadapi dengan pelajaran Fisikanya adalah bagaimana menghafal rumus dan bagaimana menggunakannya. Tulisan sederhana berikut akan menggambarkan bahwa pelajaran yang mereka dapati di sekolah telah membangun suatu peradaban jauh sebelum masa sekarang ini.
Metrologi berdasarkan asal katanya bermakna “ilmu pengukuran” yang kemudian meliputi aspek pengukuran secara teori dan eksperimen dalam bidang sains dan teknologi. Secara ilmiah tidak ada bukti pasti kapan manusia mulai melakukan pengukuran, yang dapat dipastikan adalah bahwa manusia mulai membilang saat manusia telah mengembangkan bahasa untuk berkomunikasi. Majunya suatu kebudayaan tidak dapat dipungkiri dimulai saat manusia mengenal tulisan untuk merepresentasikan bahasa yang mereka gunakan. Bangsa mesir kuno telah mengenal tulisan sejak 3500 SM yang dituangkan melalui ukiran-ukiran diatas batu, kayu, tulang atau papyrus. Bukan hanya aksara namun angka yang digunakan untuk membilang-pun tak luput untuk dilambangkan. Aksara dan angka menjadi suatu alat komunikasi dan alat perekam peradaban.
Rekaman sejarah menunjukan bahwa megahnya piramid di Mesir sebagai bentuk peradaban budaya mesir kuno terstruktur bukan berdiri tanpa pengukuran. Mereka telah mengenal satuan ukur cubit sebagai satuan panjang untuk keperluan pembangunan maupun perdagangan. Satuan ukur panjang ini merupakan representasi dari panjang lengan bagian depan raja Firaun yang sedang berkuasa, diukur dari siku sampai ujung jari tengah ditambah lebar tangannya.
Panjang cubit kerajaan ini menjadi regulasi penting untuk mendefinisikan satuan panjang yang dimiliki oleh para insinyur, arsitek maupun pedagang. Bahkan hukuman matipun tak segan dilayangkan oleh Firaun bagi mereka yang lupa untuk membandingkan (baca:mengkalibrasi) besaran ukur mereka dengan satuan standar cubit kerajaan pada setiap bulan purnama.
Penyebaran besaran cubit ini dilakukan ke dalam bentuk alat ukur yang dipahat pada granit hitam atau kayu, dimana tanggung jawab penyebarannya dilakukan oleh para ilmuan pada masa itu. Sehingga tidaklah mengherankan jika salah satu keajaiban dunia seperti Piramid Mesir yang berukuran sisi 236,22 m memiliki kesalahan rata-rata hanya 15 mm.
Lain di Mesir lain pula di Indonesia, salah satu keajaiban dunia lainnya yang patut kita banggakan sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia sendiri adalah Candi Borobudur. Susunannya yang teratur dan tak kalah megah dengan keajaiban dunia lainnya membuat daya tarik tersendiri tak hanya bagi masyarakat Indonesia namun juga masyarakat dunia. Menurut sejarah, Candi borobudur dibangun antara 750 M – 850 M oleh Wangsa Sailendra, ditemukan oleh Gubernur Jendral Britania Raya Sir Thomas Stampford Raffles pada tahun 1814. Saat itu Candi Borobudur masih berupa bukit yang dipenuhi semak belukar terkubur selama berabad-abad oleh lapisan debu vulkanik.
Lanjut cerita pada masa pemugaran Candi, beberapa patung Budha didapati tanpa kepala. Sehingga dalam usaha untuk memastikan pasangan kepala dengan badan dilakukan pengukuran diameter leher patung yang diukur pada delapan arah. Jika rancangan awal pahatan leher patung diasumsikan berbentuk lingkaran, maka diperoleh rata-rata standar deviasi pengukuran sebesar 5.85 mm. Sedikit informasi pengukuran ini membuat kita kagum bahwa pada kala itu seniman pemahat patung Budha telah memperhitungkan dimensi lengkung dengan keakuratan yang memadai pada zamannya. Tentunya pada skala makro pembuatan Candi, dimungkinkan pengukuran yang akurat dan presisi sehingga diperoleh bangunan candi yang teratur, megah dan menawan.

Sumber

Pusaka J. Orasi Pengukuhan APU Bidang Metrologi, “Tiada Bentuk Tanpa Ukuran, Tiada Ukuran Tanpa Standar Satuan Panjang.” (http://katalog.pdii.lipi.go.id/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/7163/7163.pdf).

EURAMET project 1011, “Metrology in Short.” 3rd edition. (http://resource.npl.co.uk/international_office/metrologyinshort.pdf).

http://www.google.co.id/

Last Updated ( Tuesday, 20 July 2010 )
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 9 of 14