Program Studi Kimia - Fakultas MIPA - Universitas Islam Indonesia - Konsentrasi Analisis Industri dan Lingkungan - Konsentrasi Kewirausahaan Kimia - Konsentrasi Minyak Atsiri

You are here: HOME
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
31 Mei: Hari Tanpa Tembakau Sedunia Print E-mail
Monday, 31 May 2010

Hari ini, Senin, 31 Mei 2010 dikenal sebagai:

"Hari Tanpa Tembakau Sedunia"

Selamat ya...

 

Ini Gambar yg Inspairing yang terdapat di pojokan FMIPA UII. sangat menggugah.

Last Updated ( Tuesday, 01 June 2010 )
 
Hubungan Ikan dan Kecerdasan Otak Print E-mail
Monday, 31 May 2010
 Tingkat kecerdasan orang Jepang ternyata berada di atas rata-rata tingkat kecerdasan orang Asia lainnya. Hal itu dibuktikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) Jepang yang mendapat pengakuan internasional dan sejajar dengan negara-negara industri maju. Selain itu orang Jepang juga dikenal tetap sehat dan memiliki gairah hidup tinggi sampai usia tua, bahkan sampai usia 80 tahun.
Dari aspek gizi dan pangan, ternyata bahan pangan yang mendominasi makanan orang Jepang ialah ikan, dengan tingkat konsumsi rata-rata 60 kg per orang per tahun. Tingkat konsumsi ikan orang Indonesia masih di bawah 30 kg per orang per tahun. Sementara di Malaysia sudah mencapai 37 kg per orang per tahun.
Kadar protein ikan segar atau olahan cukup tinggi, seperti cakalang 24,2 persen, tuna 23,7 persen, bandeng 21,7 persen, lemuru 20,2 persen, ikan mas 16 persen, pindang 27 persen, ikan asap 30 persen, ikan asin 42-50 persen, udang segar 21 persen dan udang kering 62,4 persen. Kandungan lemak ikan rendah, umumnya di bawah 5 persen. Bandingkan dengan kandungan lemak ayam yang mencapai 25 persen. Ikan juga kaya akan kalsium, fosfor, besi, Vitamin A dan B1.
DHA

Salah satu komponen gizi yang terkandung dalam ikan dan diduga berperan dalam meningkatkan kecerdasan ialah Docosa-hexaenoic-acid (DHA), yang merupakan asam lemak tak jenuh ganda berupa rantai panjang Omega-3, terdiri dari 22 atom karbon, 32 atom hydrogen dan 2 atom oksigen (rumus molekul: C22H32O2).
Belakangan ini DHA dijadikan food supplement, antara lain dicampur dengan susu bayi dan balita, susu untuk ibu hamil, biscuit bayi, kapsul dn minyak ikan. DHA juga terdapat di dalam air susu ibu (ASI), dengan demikian bayi yang disusui secara penuh (dua tahun) kebutuhan DHA-nya sudah terpenuhi. Bagi orang yang terbiasa mengkonsumsi ikan, terutama ikan air dingin seperti salmon, tuna dan mackerel kebutuhan DHA-nya juga sudah terpenuhi dari ikan.
Berbagai hasil penelitian menunjukkan, bayi yang mendapat ASI mempunyai IQ lebih tinggi dari bayi yang tidak mendapat ASI. Bayi yang tidak mendapat ASI memiliki kandungan DHA yang rendah dan bobot otak yang lebih ringan dibanding bayi yang diberi ASI. Sebagai komponen pembentuk otak, DHA diperlukan mulai dari 3 bulan sebelum bayi lahir sampai usia 18 bulan. Untuk bayi pre-term (berat badan rendah) sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi DHA. Untuk itu konsumsi ikan perlu lebih ditingkatkan.
DHA merupakan asam lemak tak jenuh yang bermanfaat untuk mencegah penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah otak, jantung dan organ reproduksi pria. DHA sangat penting untuk perkembangan otak, sekitar 60 persen dari seluruh asam lemak pada otak merupakan DHA. Selain itu, DHA merupakan bagian penting pembentukan struktur membran pada bagian belakang mata.
Bagaimana mekanisme DHA dalam meningkatkan kecerdasan otak belum diketahui secara pasti. Namun fakta menunjukkan, orang Jepang yang tingkat konsumsi ikannya lebih tinggi memiliki rata-rata kecerdasan yang lebih tinggi. Ikan merupakan bahan pangan yang kaya DHA. Selain itu bayi yang diberi ASI rata-rata lebih cerdas dibanding yang tidak diberi ASI. ASI juga banyak mengandung DHA.

Makanan Otak

Kecerdasaran terbentuk dari perpaduan factor genetis, kultur dan lingkungan. Bibit pintar akan tumbuh jika di antara ketiga factor tersebut tumbuh sinergi yang saling melengkapi. Secara genetis orang tua yang cerdas akan menurunkan anak-anak yang cerdas, tetapi kecerdasan akan tampak jika kebiasaan sehari-hari (kultur) termasuk pola konsumsi turut mendukung, serta ditunjang oleh lingkungan yang kondusif .
Kegiatan bersekolah, aktif belajar, gemar berpikir dan mengemukakan pendapat akan merangsang peningkatan kecerdasan, sejalan dengan bertambahnya umur. Proses intelek terus berlangsung melampaui masa bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan grafik fungsi intelektual mulai menurun ketika usia 50 tahun mulai terlampaui.
Fungsi intelek akan mengalami gangguan jika terjadi kasus kekurangan vitamin B1, B6, B12, mineral zinc dan iodium. Menurut ahli gizi otak, jenis makanan tertentu mempengaruhi produksi beberapa jenis neurotransmitter (zat penghantar listrik otak) seperti choline dan lecithin yang banyak terdapat dalam kuning telur, hati, otak, sumsum, kedelai dan biji-bijian lainnya. Neurotransmitter sangat vital untuk menghapal, oleh karena itu menu choline tinggi dapat memperbaiki daya ingat jangka pendek.
Untuk meningkatkan kecerdasan otak, selain tergantung pada factor genetis dan lingkungan, juga dipengaruhi oleh kultur pra dan pasca kelahiran, terutama menyangkut “makanan otak”. Selain ikan jenis “makanan otak” lainnya ialah kuning telur, hati, otak, sum-sum, kedelai dan biji-bijian lainnya. Tahu dan tempe terbuat dari kedelai, maka bahan pangan inipun kaya akan lecithin dan cholin. Ada baiknya dibuat resep masakan khusus yang menggabungkan jenis-jenis makanan tersebut, bisa dalam bentuk “bubur cerdas”, “sup cerdas”, dan sebagainya.

Penutup

Untuk menjadi bangsa yang cerdas makan ikan perlu lebih digalakkan. Kalaupun ikan yang kaya DHA seperti tuna atau salmon sulit terjangkau, ikan local seperti lele, mas, mujair, bandeng, teri, kakap atau jenis lainnya tidak jadi masalah, karena ikan tersebut juga kaya protein, bahkan ikan asin memiliki kandungan protein tertinggi.
Sebenarnya DHA dapat dibentuk dalam tubuh manusia, namun kemampuan fisiologis setiap orang untuk mengubah dari bahan baku (asam lemak tak jenuh ganda) menjadi DHA berbeda-beda, tergantung pada tingkat kesehatan, penyerapan dan kondisi lemaknya di dalam tubuh. Dengan demikian mengkonsumsi ikan sangat dianjurkan, selain mengandung DHA ikan juga mengandung EPA (C20H3O20. DHA dan EPA secara bersama dikenal sebagai Omega 3, yang sudah dikenal dapat mencegah serangan jantung, stroke dan impotensi.
Ikan yang dikonsumsi perlu memenuhi persyaratan tertentu, seperti habitatnya tidak tercemar logam berat (Hg, Pb, dan Cu). Selain itu, ikan harus dalam kondisi yang segar. Ciri-ciri ikan yang masih segar: tidak berbau amis, dagingnya masih kenyal, ekornya tidak kering dan menghitam serta matanya tidak berwarna merah, Hindari ikan yang penempatannya ditumpukan bersama hewan laut lainnya seperti kepiting, kerang dan udang, sebab hal itu akan menyebabkan terjadinya kontaminasi silang.
Indonesia memiliki perairan yang sangat luas, baik lautan atau daratan, dengan demikian potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki sangat besar. Upaya peningkatan konsumsi ikan akan memberikan manfaat ganda, selain meningkatkan kecerdasan, juga makin menggairahkan sector perikanan.
 
Disarikan dari :
http://netsains.com/2010/05/hubungan-ikan-dan-kecerdasan-otak/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+netsains+(Netsains.Com)
Last Updated ( Tuesday, 13 July 2010 )
Read more...
 
Visitasi Program Hibah Hi-Link DIKTI Ke Prodi Ilmu Kimia FMIPA UII Print E-mail
Wednesday, 26 May 2010
 Suatu prestasi yang sangat membanggakan bagi Prodi Ilmu Kimia FMIPA, karena pada hari Senin, 24 Mei 2010 Reviewer Program Hibah H-Link DIKTI berkunjung untuk mengadakan visitasi hasil seleksi proposal untuk tahun 2010.  Proposal yang diajukan ke DIKTI tersebut berhasil  bersaing dengan sekitar 400 proposal yang telah diasukan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.  Riyanto, Ph.D selaku Ketua Tim mengatakan bahwa Proposla Program H-Link yang diajukan merupakan bentuk komitmen dari Perguruan Ttinggi (PT) dalam hal ini Prodi Ilmu Kimia FMIPA UII yang telah berhasil megembangkan riset berbasis minyak atsiri, Pemerintah Daerah Sleman dan Kelompok Tani Subur Makmur Kabupaten Sleman.  Bentuk komitmen yang diberikan oleh PT adalah menyumbangkan hasil penelitian dalam bentuk aplikasi teknologi  yang akan digunakan oleh kelompok tani nantinya, sedangkan dari Pemda adalah mendukung pendanaan yang disiapkan melalui anggaran APBD pada tahun 2010.   Seandainya Proposal ini tembus, maka selama 3 tahun kedepan Prodi Kimia dapat bermitra dengan beberapa pihak untuk mengembangkan sentra industry minyak atsiri di Kabupaten Sleman, ungkap Riyanto, Ph.D yang kembali terpilih sebagai Ketua Prodi Kimia tahun 2010-2014.  
Pada kesempatan visitasi yang adiadakan di ruang Sidang 2 FMIPA UII, hadir Prof. Dr. Hardjono Sastrohamidjojo selaku Pakar Minyak Atsiri di Indonesia, Yandi Syukri, M.Si., Apt sebagai Dekan FMIPA UII, Ir, Mashudi, MM yang dalam hal ini mewakili Pemda Sleman, Anton, SE selaku wakil dari kelompok tani  Subur Makmur.  Bertindak reviewer dalam kunjungannya ke UII adalah Ibu Elda.  Dalam kesempatan itu, Elda akan melakukan teropong sejauh mana kesiapan tim untuk menerima hibah H-Link yang sudah untuk tahun ketiga diselenggarakan oleh DIKTI.  “indicator keberhasilan program ini ditunjukkan dengan adanya peningkatran APBD di Kabupaten Sleman dan juga terbentuknyalapangan pekerjaan di Kabupaten Sleman”, ungka Elda. 
Dekan FMIPA Bpk. Yandi Syukri, M.Si., Apt yang memberikan sambutan pada acara visitasi menyampaikan rasa bangganya terhadap prestasi yang diraih oleh Prodi Ilmu Kimia karena merupakan yang pertama kalinya dapat menembus Prgram H-Link sampai tahap ketiga.  Yandi Syukri, M.Si., Apt mengharapkan hasil visitasi yang dilakukan mulai pukul 15.00 itu dapat memperoleh hasil yang positif sehingga Program H-Link dapat lolos dan mendapatkan dana hibah dari DIKTI.    Seusai visitasi yang diselenggarakan di dalam ruang, selanjutnya diadakan kunjungan oleh reviewer beserta tim yang tergabung dalam Program H-Link ke unit produksi minyak atsiri yang dimiliki oleh ProdiIlmu Kimia.  Pada saat itu beberapa mahasiswa dari S1 Ilmu Kimia dan Program D3 Analis Kimia sedang melakukan proses penyulingan minyak nilam. 
 
Last Updated ( Wednesday, 26 May 2010 )
Read more...
 
Ketika Sains Dasar Tak Lagi Dianggap Penting Print E-mail
Wednesday, 26 May 2010
Suatu ketika ada seorang kolega mengajukan pertanyaan kepada saya, tatkala saat itu saya hendak melanjutkan pendidikan S2 di bidang Oceanografi Fisika. Ya, ini adalah salah satu ilmu dasar yang sangat menantang bagi para ilmuwan di bidang kelautan. Bahkan sering disebut-sebut sebagai ilmu sesat dalam setiap pertemuan ilmiah ikatan para sarjana di bidang ilmu ini. Agak ironis memang.
Adapun pertanyaan dari seorang sahabatku waktu itu adalah ; ilmu oseanografi kan gak ada gunanya, kenapa harus dipelajari ? ya, mungkin menurut pandangan sahabat saya ini adalah ilmu yang sangat berguna adalah ilmu yang langsung bisa diaplikasi untuk kepentingan masyarakat banyak.
Ada benarnya juga, untuk apa kita mempelajari dinamika pergerakan massa air laut, distribusi plankton, siklus materi di laut?  Kalau pada akhirnya sama sekali gak ada gunanya? Toh, lebih berguna jika kita mempelajari bagaimana merancang alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan, ataupaun mempelajari ilmu bagaimana mengawetkan ikan agar bisa tahan lama sehingga bisa menembus pasar ekspor.
Ok, saya sedikit setuju dengan pendapat ini, tapi sabar dulu, saya memang mengambil contoh dari sisi ilmu kelautan. Bagaimana bisa kita mengeksplorasi sumber daya laut misalnya fishing ground (daerah penangkapan) tanpa mengetahui titik konsentrasi nutrien yang merupakan sumber makanan fitoplankton? Nah di sini peran seorang oseanografi biologis bukan? Bagaimana kita bisa mengawetkan ikan jika kita tidak mempelajari ilmu kimia dan mikrobiologi? Kemudian saya ambil contoh bidang ilmu lain misalnya, di bidang pertanian ; bagaimana orang bisa melakukan pemuliaan tanaman guna mendapatkan bibit unggul tanpa mempelajari ilmu genetika? Di bidang lingkungan, bagaimana kita bisa mendeteksi polusi lingkungan yg lagi marak dibicarakan disegala event dan konferensi internasional, jika kita tidak memiliki basic ilmu kimia ? semuanya akan pincang kan?
Dari dua ilustrasi tersebut saya berharap kita harus berpikir sekali lagi untuk menempatkan ilmu-ilmu dasar pada urutan yang kesekian. Karena sangat terlihat bahwa science dasar memang sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa. Negeri Cina muncul sebagai macan asia karena perekonomian yang makin hari makin kuat menyingkirkan Amerika dan jerman karena landasan pembangunan mereka adalah basic science.
Di tanah air, pola pikir ilmuwan masih terlalu dibayang-bayangi oleh riset yang secara langsung mendatangkan profit, sehingga riset dasar (mikro) yang membutuhkan waktu yang relatif lama sangat tidak diminati. Ataukah riset dasar kurang dibanjiri mega proyek? Wallahualam.
Jika kita menoleh ke negara-negara yang telah maju di bidang IPTEK terutama di eropa, fakultas science adalah fakultas yang sangat bergengsi. Tahun lalu saya mengambil program master di bidang oseanografi biogeokimia di mana semua teman-teman seisi kelasku adalah lulusan licence (sarjana, red) di bidang, matematika, fisika, kimia dan biologi. Nah, otomatis mereka sama sekali tidak kaku dalam menjalani mata kuliah, pemodelan ekosistem, analisa numerik, ataupun mikrobiologi laut.
Terlepas dari itu menurut pendapat saya bahwa pemerintah di tanah air terlihat tidak memiliki politikal will terhadap pengembangan riset di bidang science dasar, padahal beberapa perguruan tinggi ternama seperti ITB, IPB, UGM, UI da nITS telah memiliki fakultas MIPA di mana penguasan teorinya saya anggap cukup ‘’kuat’’. Ataukah mungkin karena universitas dan institusi riset dalam hal ini BPPT dan LIPI di tanah air tidak berada dalam satu wadah dalam hal pengembangan riset ? Mungkin kita bisa bercermin dari negara-negara maju dimana institusi riset dan universitas berada dalam satu wadah karena kementrian riset dan pendidikan tinggi dijadikan satu seperti di prancis misalnya.
Selain itu juga dunia industri dijadikan mitra kerja sejati dari intitusi riset dan universitas, sehingga setiap hasil riset langsung diujicoba oleh pihak industri. Dengan demikian maka diharapkan adanya sinkronisasi di antara ketiga pihak tersebut. Jika hali ini bisa direalisasikan maka niscaya hasil penelitian mutakhir dari para ilmuwan tak akan hanya tersimpan sebagai arsip tapi akan membawa suatu sisi manfaat yang signifikan bagi pembangunan bangsa dan tanah air, baik science dasar itu sendiri maupun aplikasinya kelak.
Di Salin Dari :
http://netsains.com/2010/05/ketika-sains-dasar-tak-lagi-dianggap-penting/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+netsains+%28Netsains.Com%29
Last Updated ( Wednesday, 26 May 2010 )
Read more...
 
Wisuda UII periode V TA 2009/2010 Print E-mail
Sunday, 23 May 2010
Sabtu, Taggal 22 Mei 2010 Pragram Studi Ilmu Kimia FMIPA UII untuk kesekian kalinya, kembali berkontribusi untuk menambah lagi profesional sumber daya manusia Indonesia di bidang Ilmu Kimia. ada empat orang mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studinya dan dapat di wisuda pada wisuda Universitas Islam Indonesia periode V TA 2009/2010. ke empat mahasiswa tersebut adalah:
1. Hery Setyawan
2. Rachmat Oktorino Harni
3. Martsiano Wija Dirgantara
4. Pandu Ari Darmawan

mereka bersama dengan 571 mahasiswa lainnya telah di wisuda. selamat buat kalian semua, kami menunggu kontribusi yang nyata untuk kemajuan indonesia.
 
<< Start < Prev 51 52 53 54 55 56 57 Next > End >>

Results 501 - 510 of 568

Quisioner Layanan Lab.

Quisioner Kepuasan Layanan Lab.

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register
 

Links

 

Testimoni Alumni

KHORIA OKTAVIANI - ANGKATAN 2002: "...walaupun apa yg saya lakukan adalah penggambaran secara makro (bukan bersifat teknis) namun diperlukan dasar2 pengetahuan kimia yg kuat untuk dapat memberikan analisis yang tepat... read more

DESY SETIONINGRUM - ANGKATAN 2004: "ilmu yang saya dapat dari kuliah sangat bermanfaat bagi saya pak karena saya bekerja dilaboratorium dan harus mengenal banyak bahan kimia dan yang berhubungan dengan kimia pak pokoke banyak bermanfaat... read more

THORIKUL HUDA - ANGKATAN 1999: "Saya merasa sangat bersyukur kepada ALLAH SWT yang telah mentakdirkan saya untuk kuliah di Prodi Ilmu Kimia FMIPA UII. Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama menjalani perkuliahan, sehingga sampai saat ini saya masih bisa mengamalkan ilmu yang disampaikan oleh dosen-dosennya... read more

AHMAD HANAFI - ANGKATAN 2002: "UII adalah pilihan terbaik bagi saya".. terutama dalam hal pelayanan, UII adalah nomer "satu"... read more

CECEP SA’BANA RAHMATILLAH - ANGKATAN 2001: "Kuliah di Ilmu Kimia Luar Biasa, Keren... Bagaimana ndak keren?!! selain staf dosennya masih muda2 jadi enak ketika bergaul and curhat... read more 

KHOIRUL HIMMI SETIAWAN - ANGKATAN 2002: "Pengalaman semasa kuliah di Kimia UII sungguh pengalaman yang luar biasa pak, betul-betul luar biasa.. Hal yang paling penting adalah "rasa kedekatan dan kepedulian yang sangat besar" dari Dosen kepada mahasiswa... read more

Artikel

Journal IJMSC

Who's Online

We have 2 guests online

Selamat Datang di Prodi Kimia FMIPA UII

Program Studi Kimia FMIPA-UII adalah salah satu Prodi di Lingkungan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta yang sedang terus mengembangkan diri menuju program studi dengan kualitas pengajaran dan riset yang tinggi berwawasan pada Kearipan Lokal (Local Geneus).

Dr. Is Fatimah
Ketua Program Studi

Dr. Dwiarso Rubiyanto, M.Si.
Sekretaris Program Studi

READ MORE...

Polls

Life Is Chemistry and There Is No Life Without Chemistry...