Program Studi Kimia - Fakultas MIPA - Universitas Islam Indonesia - Konsentrasi Analisis Industri dan Lingkungan - Konsentrasi Kewirausahaan Kimia - Konsentrasi Minyak Atsiri

You are here: HOME
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
SYUKUR ALHAMDULILLAH Print E-mail
Monday, 31 August 2009

Alhamdulillah Fasilitas Internet sudah bisa jalan, jadinya bisa Up Date Web Site Lagi.

Mohon Maaf lama tidak ter up date.

SELAMANT MENUNAIKAN PUASA DI BULAN RAMADHAN 1430 H.

~Admin~

 
Kesempatan Menjadi Asisten Praktikum TA 2009/2010 di Lab Ilmu Kimia FMIPA UII Print E-mail
Friday, 10 July 2009

PENGUMUMAN

No. 005/korlab/10/Lab.Kim./VII/2009
Tentang

REKRUITMEN ASISTEN PRAKTIKUM

TAHUN AKADEMIK 2009/2010


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pada tahun Akademik 2009/2010 Laboratorium Ilmu Kimia membuka kesempatan untuk menjadi Asisten Praktikum dengan syarat sebagai berikut :
A. Persyaratan Umum
   1. Beragama Islam
   2. Sehat Jasmani dan Rohani
   3. Mengajukan surat lamaran yang ditujukan ke :
      Koordinator Laboratorium Ilmu Kimia
      Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
      Universitas Islam IndonesiaB. Persyaratan Khusus
   Mahasiswa Ilmu Kimia UII
   1. Minimal telah menempuh semester 6 dengan IPK minimal 3,00 dengan nilai praktikum minimal B
   2. Menyerahkan Transkip nilai yang telah disahkan
   3. Menyerahkan pas photo ukuran 4x6 sebanyak 2 lembar
   4. Menyerahkan Daftar Riwayat Hidup/CV terbaru disertai copy sertifikat pelatihan yang pernah diikuti

   Alumni Ilmu Kimia atau D3 Kimia Analis FMIPA UII
   1. Menyerahkan Ijazas dan Transkip nilai yang telah dilegalisir
   2. IPK minimal 3,00 dengan nilai praktikum minimal B
   3. Menyerahkan pas photo ukuran 4x6 sebanyak 2 lembar
   4. Menyerahkan Daftar Riwayat Hidup/CV terbaru disertai copy sertifikat pelatihan yang pernah diikuti

C. Ketentuan Lain
   1. Waktu dan tempat pendaftaran:
      Pendaftaran dimulai tanggal 9 – 23 Juli 2009
      Berkas diserahkan ke laboran Ilmu Kimia Dasar (Bpk Dwi Mahmudi/ Mas Cecep) pada jam kerja ( Pukul 09.00 – 14.00 WIB)
   2. Waktu dan tempat pengumuman hasil seleksi :
      Pendaftar yang lolos seleksi akan dihubungi via Telpon (SMS) dan juga akan diumumkan pada tanggal 29 Juli 2009 melalui papa pengumuman di depan Lab Kimia Dasar FMIPA UII, Lab Terpadu Lt 1.

Wassalamua’alaikum Wr. Wb.

Jogjakarta, 6 Juli 2009
Koorlab Ilmu Kimia

Reni Banowati Istiningrum, S.Si.
Last Updated ( Friday, 10 July 2009 )
Read more...
 
Teknologi Pelapisan Logam Secara Listrik Print E-mail
Wednesday, 01 July 2009

Kata Kunci: elektroplating, pelapisan logam

Pendahuluan dan Manfaat
Prinsip dasar pelapisan logam secara listrik adalah penempatan ion logam yang ditambah elektron pada logam yang dilapisi, yang mana ion-ion logam tersebut didapat dari anoda dan eletrolit yang digunakan.
Secara eletro kimia, prosesnya dapat dilihat pada diagram sebagai berikut :

Skema Pelaksanaan Pelapisan Logam Secara Listrik
Keterangan :
(1) Anoda (bahan pelapis);
(2) Katoda (benda kerja);
(3) Elektrolit; dan
(4) Sumber arus searah
Dengan adanya arus yang mengalir dari sumber maka elektron “dipompa” melalui eletroda positip (anoda) menuju eletroda negatip (katoda).  Dengan adanya ion-ion logam yang didapat dari eletrolit maka menghasilkan logam yang melapis permukaan logam lain yang dilapis.

PENDINGINAN DAN PEMANASAN ELEKTROLIT
Pelapisan logam pada satu jenis eletrolit mungkin bekerja pada suhu 50 derajat celsius, tapi pada jenis lain justru tidak boleh bekerja pada suhu panas,atau dengan perkataan lain harus bekerja pada suhu yang dingin.
Karena keadaan-keadaan itulah maka dibutuhkan pemanasan atau pendinginan eletrolit.  Untuk pemanasan eletrolit biasanya digunakan pemanas celup (immersion heater) yang dapat diatur suhunya.
Biasanya, pendinginan cairan elektrolit lebih jarang dilaksanakan dibandingkan dengan pemanasan.  Penyebabnya adalah bahwa operasi elektroplating lebih sering dilaksanakan pada suhu panas dari pada dilakukan dalam suhu ruangan.
Sedangkan untuk pendinginan elektrolit digunakan pipa-pipa pendingin. Cairan elektrolit diisap sehingga mengalir dalam pipa-pipa yang dicelup air atau didinginkan oleh udara.

PENYARINGAN
Pada saat pencampuran bahan kimia untuk membuat elektrolit, mungkin saja masih ada sisa bahan kimia yang tidak larut dan mengendap atau mengapung dalam cairan eletrolit.  Oleh karena itu, sebelum maupun selama proses eletroplating seringkali harus dilaksanakan penyaringan.
Penyaringan pada tahap pertama (sebelum proses pelapisan) dilakukan dengan 2 macam prosedur, yaitu :
1. Penyaringan dengan kain penyaring
2. Penyaringan dengan mesin penyaring
Cara pertama dilakukan untuk proses pelapisan pada tangki kecil. Adapun prosedurnya sebagai berikut : pencampuran bahan kimia dilakukan di tangki lain kemudian tuangkan eletrolit yang sudah jadi ke tangki elektrolit utama melalui kain penyaring.
Sedangkan cara kedua dilakukan untuk proses pelapisan pada tangki besar.  Prosedurnya dilakukan pencampuran bahan kimia langsung pada tangki elektrolit utama.  Setelah itu masukan slang-slang pengisap kedalam larutan.  Kemudian operasikan mesin penyaring selama kurang lebih setengah jam, sambil dilakukan pengadukan pada larutan elektrolit.

PENGADUKAN
Pada saat proses pelapisan logam berlangsung maka akan timbul gelembung-gelembung gas hidrogen (H2).  Selain itu juga akan timbul kotoran-kotoran akibat proses.  Gas hidrogen dan kotoran yang timbul dapat mengganggu proses pelapisan yang buruk.  Gas hidrogen yang timbul akan menyeabkan lobang-lobang kecil berupa titik-titik hitam  atau buram pada permukaan hasil pelapisan.  Hal ini sering disebut “pitting”.  Kadang juga kotoran akan menempel pada benda yang dilapis, sehingga permukaannya menjadi jelek dan berlapis.
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka selama proses pelapisan harus dilakukan pengadukan. Dengan adanya pengadukan maka gas hidrogen maupun kotoran tidak akan menempel pada permukaan benda yang dilapis sehingga tidak akan ada “pitting”.  Pitting yang disebabkan oleh adanya gas hidrogen tersebut selain menjadikan hasil pelapisan menjadi tampak buruk, juga menyebabkan kerapuhan hasil pelapisan.  Sifat rapuh ini akan nampak bila benda kerja dibengkokan, maka logam pelapis menjadi patah atau retak.
Pengadukan yang dilakukan terhadap eletrolit dikategorikan ke dalam 3 jenis menurut caranya, yaitu :
1. Pengadukan mekanik
Yang dimaksud dengan pengadukan mekanik adalah pengadukan dengan alat-alat mekanik, seperti : kipas, lempengan ayun dan lain sebagainya.
2. Pengadukan dengan udara
Cara pengadukan ini paling sering digunakan pada industri-industri karena mempunyai banyak kelebihan apabila dibandingkan dengan cara pengadukan mekanik. Dengan cara pengadukan udara, maka bagian yang masuk ke dalam elektrolit (untuk melakukan pengadukan) adalah hanya sebuah slang plastik.
Adapun proses pengadukannya yaitu, udara dikompresikan ke dalam kompresor, kemudian udara kompresinya dialirkan kedalam elektrolit dengan menggunakan slang plastik yang tahan bahan kimia.  Karena adanya udara bertekanan tadi, maka elektrolit akan teraduk.  Dengan mengatur tekanan udara yang keluar dari kompresor maka besar atau kuatnya pengadukan juga dapat diatur.
3. Pengadukkan Katoda
Berbeda dengan kedua cara pengadukan tadi, maka cara pengadukan katoda ini dilakukan tanpa mengaduk zat cair (elektrolit). Dalam hal ini, yang bergerak /bergoyang adalah katodanya. Dalam beberapa proses pelapisannya, justru ada yang lebih disarankan menggunakan cara ini dari pada menggunakan cara pengadukan dengan udara. Penggunaan cara pengadukan katoda umumnya dilakukan pada proses pelapisan yang tidak banyak menimbulkan gas hidrogen atau lainnya. Proses pelapisan dengan menggunakan cara pengadukan katoda diantaranya adalah pelapisan tembaga.

Bahan dan Peralatan
1. Benda yang akan dilapis.
2. Sikat, mesin gosok atau bahan-bahan kimia untuk membersihkan kotoran.
Adapun jenis kotoran yang perlu dibersihkan dengan bahan kimia :  
a) Minyak dan sejenisnya, termasuk gemuk, parafin, paslin, dan jenis bahan organik lainnya  
b) Karat dan oksida logam lainnya. Karat adalah oksida besi atau disebut juga korosi. Sedangkan pada logam lain juga terdapat oksida yang menempel pada permukaan logam tersebut.

Cara Pembersihan
A. Pembersihan secara kimia ada beberapa cara
, yaitu :  
1. Penguapan  
Cara ini dilakukan dengan menggunakan uap senyawa khlor hidrokarbon (chlorinated hydrocarbon) sebagai pembersih atau pengurai minyak. Penggunaan uap tersebut mempunyai keuntungan-keuntungan sbb :
a. kestabilan komposisi yang tinggi  
b. penguraian minyak atau paslin yang baik  
c. kepadatan uap yang tinggi  
d. tidak dapat terbakar atau menyala  
2. Pencelupan 
Pembersihan karat atau oksida logam yang lain biasanya menggunakan larutan kimia seperti asam chlorida, asam sulfat dan asam nitrat dengan konsentrasi larutan, suhu dan lama pencelupan yang berbeda-beda tergantung kepada jenis logam yang akan dibersihkan.

B. Pembersihan secara Listrik
Pembersihan secara listrik dibagi dua yaitu, pembersihan dari kotoran dan penghalusan atau sering disebut pemolesan secara listrik (elektropolishing).

Last Updated ( Wednesday, 01 July 2009 )
Read more...
 
Is Fatimah Kembali lolos Hibah Kompetitif Penelitian untuk Publikasi Internasional Batch I 2009 Print E-mail
Tuesday, 30 June 2009

Kaliurang-Nama Is Fatimah kembali muncul diantara 255 (Dua Ratus Lima Puluh Lima) nama peneliti yang dinyatakan lolos dalam Hasil Evaluasi Hibah Kompetitif Penelitian untuk Publikasi Internasional Batch I Tahun 2009. Hasil evaluasi tentang nama-nama peneliti yang dinyatakan lolos secara resmi dikeluarkan DP2M Dirjen DIKTI Depdiknas RI melalui Surat Resmi Nomor: 830/D3/PL/2008 dengan lampirannya yang menyebutkan sejumlah 255 nama peneliti yang dinyatakan lolos tersebut.
Dosen Jurusan/ Prodi Ilmu Kimia yang nama tidak asing di dunia penelitian khususnya di bidang kimia ini bukan pertama kali ini saja memenangkan hibah. Dosen yang mengantongi gelar M.Si. dan juga sedang menempuh S3/ Doktor di Universitas Gadjah Mada ini boleh dibilang salah satu peneliti kebanggaan yang dimiliki oleh Fakultas MIPA dan juga UII.

Dalam surat bertanda tangan Suryo Hapsoro Tri Utomo, Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dirjen Dikti terdapat 2 nama peneliti lain yang berasal dari Universitas Islam Indonesia, mereka adalah Hastuti Saptorini dan Muhammad Roy Purwanto. Bu Is sapaan akrabnya, berhasil meraih hibah kali ini dengan mengusung judul penelitian TiO2 Dispersed on Alumunium Pillared Monmorillonite and its photochatalytic Activity Toward Methylene Blue Decolorization. Sebuah prestasi yang patut untuk dibanggakan khususnya untuk keluarga besar FMIPA dan UII.
 
Download Surat dan Lampiran:
Surat DP2M Dirjen Dikti Depdiknas RI No. : 830/D3/PL/2008 (PDF)
Lampiran Surat No. : 830/D3/PL/2008 (PDF)

Read more...
 
Menjadikan ikan berfluoresensi untuk pendeteksian merkuri Print E-mail
Thursday, 25 June 2009

Kata Kunci: fluoresensi, merkuri
Ilmuwan di Korea Selatan telah mengembangkan sebuah penyelidik (probe) baru untuk logam merkuri yang bisa digunakan untuk pencitraan organ-organ makhluk hidup.
Merkuri merupakan salah satu polutan yang sangat toksik dan umum ditemui. Tetapi meskipun beberapa penyelidik fluoresensi telah ada untuk logam merkuri namun kebanyakan hanya mendeteksi bentuk anorganik dari logam ini; ada beberapa laporan tentang penyelidik untuk spesies merkuri organik seperti metilmerkuri. Meskipun demikian, unsur ini umum ditemukan dalam bentuk organik, yang lebih toksik dibanding merkuri anorganik karena lipofilisitasnya memungkinkan mereka melintasi membran-membran biologis. Konsekuensinya, cara-cara baru untuk mendeteksi spesies-spesies merkuri ini, khususnya pada organisme, sangat penting.

Sekarang, Kyo Han Ahn dari Pohang University of Science and Technology, Injae Shin dari Yonsei University dan rekan-rekannya telah memenuhi permintaan ini. Mereka telah mengembangkan penyelidik sederhana yang bereaksi baik dengan merkuri organik maupun anorganik menghasilkan sebuah produk fluoresen. Mereka telah menggunakan penyelidik (probe) ini untuk memantau spesies merkuri pada sel-sel mamalia dan organ-organ ikan zebra yang diinkubasi dengan merkuri organik.

Penyelidik (probe) yang dikembangkan Ahn dan Shin bereaksi dengan merkuri untuk melepaskan suatu senyawa fluroesen

Meskipun penyelidik-penyelidik  sebelumnya untuk merkuri anorganik menggunakan ligan-ligan yang berbasis sulfur, pendekatan Ahn dan Shin memanfaatkan kimia yang berbeda, seperti dijelaskan oleh Amirla de Silva, seorang ahli di bidang sensor fluoresen di Queen’s University, Belfast, Inggris. “Ahn dan rekan-rekannya terinspirasi dari bidang reaksi oksimerkuri. Ini merupakan sebuah kemajuan konseptual yang menarik.” De Silva menambahkan bahwa karena reaksi antara penyelidik (probe) dan merkuri berlangsung ireversibel, maka penyelidik tersebut pada dasarnya adalah sebuah kemodosimeter - atau reagen - bukan sebuah sensor. “Meskipun demikian, sebuah kemodesimeter untuk metilmerkuri merupakan sebuah tahapan penting dalam memungkinkan pemantauan racun yang berbahaya ini.”
Ahn sepakat dan mengatakan penyelidik tersebut dapat menjadi bagian penelitian keracunan merkuri. “Sekarang kita sudah memiliki penyelidik molekuler yang bisa digunakan untuk meneliti dan menelusuri metilmerkuri toksik pada spesies hidup. Dengan menggunakan penyelidik ini, kita bisa meneliti distribusi dan perjalanan metilmerkuri dalam organisme,” paparnya.
Tahapan selanjutnya adalah membuat penyelidik yang lebih sensitif. “Salah satu isu yang paling menantang dalam pendeteksian merkuri adalah bagaimana membedakan merkuri anorganik dari metilmerkuri,” kata Ahn. “Kami belum sampai pada penyelidik seperti itu tetapi kami sedang berupaya keras untuk menemukannya suatu hari nanti.”
Disadur dari: Chemistry World
http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/menjadikan-ikan-berfluoresensi-untuk-pendeteksian-merkuri/

Last Updated ( Thursday, 25 June 2009 )
Read more...
 
<< Start < Prev 51 52 53 54 55 Next > End >>

Results 501 - 510 of 548

Quisioner Layanan Lab.

Quisioner Kepuasan Layanan Lab.

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register
 


Links

 

Testimoni Alumni

KHORIA OKTAVIANI - ANGKATAN 2002: "...walaupun apa yg saya lakukan adalah penggambaran secara makro (bukan bersifat teknis) namun diperlukan dasar2 pengetahuan kimia yg kuat untuk dapat memberikan analisis yang tepat... read more

DESY SETIONINGRUM - ANGKATAN 2004: "ilmu yang saya dapat dari kuliah sangat bermanfaat bagi saya pak karena saya bekerja dilaboratorium dan harus mengenal banyak bahan kimia dan yang berhubungan dengan kimia pak pokoke banyak bermanfaat... read more

THORIKUL HUDA - ANGKATAN 1999: "Saya merasa sangat bersyukur kepada ALLAH SWT yang telah mentakdirkan saya untuk kuliah di Prodi Ilmu Kimia FMIPA UII. Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama menjalani perkuliahan, sehingga sampai saat ini saya masih bisa mengamalkan ilmu yang disampaikan oleh dosen-dosennya... read more

AHMAD HANAFI - ANGKATAN 2002: "UII adalah pilihan terbaik bagi saya".. terutama dalam hal pelayanan, UII adalah nomer "satu"... read more

CECEP SA’BANA RAHMATILLAH - ANGKATAN 2001: "Kuliah di Ilmu Kimia Luar Biasa, Keren... Bagaimana ndak keren?!! selain staf dosennya masih muda2 jadi enak ketika bergaul and curhat... read more 

KHOIRUL HIMMI SETIAWAN - ANGKATAN 2002: "Pengalaman semasa kuliah di Kimia UII sungguh pengalaman yang luar biasa pak, betul-betul luar biasa.. Hal yang paling penting adalah "rasa kedekatan dan kepedulian yang sangat besar" dari Dosen kepada mahasiswa... read more

Artikel

Journal IJMSC

Who's Online


Selamat Datang di Prodi Kimia FMIPA UII

Program Studi Kimia FMIPA-UII adalah salah satu Prodi di Lingkungan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta yang sedang terus mengembangkan diri menuju program studi dengan kualitas pengajaran dan riset yang tinggi berwawasan pada Kearipan Lokal (Local Geneus).

Dr. Is Fatimah
Ketua Program Studi

Dr. Dwiarso Rubiyanto, M.Si.
Sekretaris Program Studi

READ MORE...

Polls

Life Is Chemistry and There Is No Life Without Chemistry...