Program Studi Kimia - Fakultas MIPA - Universitas Islam Indonesia - Konsentrasi Analisis Industri dan Lingkungan - Konsentrasi Kewirausahaan Kimia - Konsentrasi Minyak Atsiri

You are here: HOME
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Ilmu Kimia FMIPA UII dikunjugi Oleh Jurusan Kimia Universitas Tadulako-Palu Print E-mail
Wednesday, 07 July 2010

Senin, 5 Juli 2010. sekitar jam 08.00 Program Studi Ilmu Kimia kedatangan tamu dari Jurusan Kimia Universitas Tadulako-Palu. Sebanyak 23 mahasiswa dan 2 dosen pendamping, diterima oleh Dekan FMIPA UII, Bapak Yandi Syukri, M.Si., Apt. dan Ketua Program Studi Ilmu Kimia, Bapak Riyanto, M.Si., Ph.D. serta ditrmani sekretaris Program Studi Ilmu Kimia, Bapak Tatang Shabur Julianto, M.Si. Beberapa Staf Dosen juga hadir dalam acara penyambutan tersebut diantaranya: Prof.Dr. Hardjono Sastrohamidjojo dan Bapak Dwiarso Rubiyanto, M.si.
Dalam sambutannya Bapak Dekan menyampaikan Profil dari Universitas Islam Indonesia, Fakultas MIPA serta perasaan bangga atas kadatangan tamu dari Universitas Tadulako ke Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia, khususnya Ke Program Studi Ilmu Kimia. "Program Studi Ilmu Kimia ini memang termasuk Program Studi yg kecil bila di bandingkan program studi lain di lingkungan UII terkait dengan Jumlah Mahasiswanya, akan tetapi Segudang prestasi telah dapat diraih oleh program studi Ilmu Kimia ini, seperti pada tahun 2004-2005 mendapatkan hibah SemiQue, dan pada tahun 2008-2010 ini tengah medapatkan hibah PHKI di bidang Minyak Atsir" Tambah beliau. Bapak Dekan Juga menyampaikan terkait Prestasi Dosen di lingkungan Prodi Ilmu Kimia. "Prodi Ilmu Kimia termasuk luar biasa karena telah mempunyai 1 Profesor, 2 doktor, dan 4 kandidat doktor dan 1 Master". "Dari Segi iklim Penelitian Dosen Prodi Ilmu Kimia juga termasuk Produktif dalam menghasilkan penelitian yg berkualitas. seperti di bidang Material dan Minyak Atsirinya"  lanjut beliau.

Penyambutan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Progaram Studi Ilmu Kimia, Bapak Riyanto, M.Si., PhD. Beliau menyampaikan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh prodi Ilmu Kimia. serta Alumni yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan tersebut juga Bapak Prof Dr. Hardjono menyampaikan sedikit tentang Minyak Atsiri yang sedang menjadi Konsen prodi Ilmu Kimia.
Setelah acara penyambutan selesai, dilakukan kunjunan ke Laboratorium yg dimiliki Oleh Prodi Ilmu Kimia, yaitu Ke Lab. Intrumentasi Terpadu, Lab. Kimia Dasar (Lab. pendidikan), Lab. Kimia Lanjut (Lab. Penelitian) serta tidak Ketinggalan berkunjung ke Lab. Semi Industri Minyak Atsiri Program Studi Ilmu Kimia.
acara kunjungan selesai jam 11.30, rombongan pamit untuk melanjutkan perjalanannya ke tempat lainnya di jogjakarta. terima kasih atas kunjungannya. semoga ada yg bisa didapatkan dari kunjungan tersebut.

         

           

          

Last Updated ( Wednesday, 07 July 2010 )
Read more...
 
Mengapa es mengambang di atas air? Print E-mail
Tuesday, 06 July 2010

Kata Kunci: air, es, ikatan hidrogen

Alasan mengapa es lebih ringan daripada air adalah massa es tertentu yang terjadi lebih kosong daripada ketika massa yang sama sebagai air. Hal ini terkait dengan “ikatan hidrogen”
Ikatan hidrogen
Molekul air terdiri dari dua tom hidrogen (H) dan satu atom oksigen (O). Atom-atom hidrogen dan oksigen terikat dengan membagi electron mereka antara satu dan lainnya. Ikatan ini disebut “ikatan kovalen”
Bagaimanapun, karena atom oksigen menarik electron lebih kuat dari atom hidrogen, atom oksigen dalam molekul air sedikit lebih negative dan atom hidrogen sedikit lebih positif. Jadi molekul air yang berdekatan tertarik antara satu dengan yang lainnya melalui atom oksigen yang sedikit lebih negative dan atom hidrogen yang sedikit lebih positif. Interaksi ini disebut “ikatan hidrogen”. Ikatan hidrogen lebih lemah daripada ikatan kovalen, namun, ikatan jenis ini memiliki efek yang besar karena terdaat banyak ikatan hidrogen.

Struktur es dan air.
Es memiliki struktur intan karena ikatan hidrogen. Air tidak memiliki struktur yang demikian teratur, tai molekul air mendekat satu dan lainnya karena ikatan hidrogen.
Lihatlah struktur sebenarnya antara es dan air (lihat gambar di bawah, gambar diberikan oleh MathMol). Bola merah mewakili atom oksigen dan bola putih mewakili atom hidrogen.

Terdapat ruang lebih banyak dalam es daripada dalam air! Inilah yang menyebabkan mengapa es lebih ringan daripada air. Karenanya es bisa mengambang di atas air.

 

Read more...
 
Mengapa Air Mendidih pada Suhu di Bawah 100 derajat Celcius? Print E-mail
Tuesday, 29 June 2010

Kata Kunci: thermometer, titik didih

 Dr. Yasunori Tominaga dari Universitas Perempuan Ochanimizu bersedia menjawab pertanyaan di atas.
Dr. Tominaga memberi catatan, “ Saya tidak menjanjikan semua informasi dari artikel saya adalah benar, karena ini adalah perkiraan saya.
Titik didih yang lebih rendah disebabkan oleh dua factor:a ir itu sendiri dan metode pengukuran.
Walaupun saya tidak melihat bagaimana percobaan dilakukan, metode pengukuran tampaknya adalah penyebabnya.
Ketika kita mengukur titik didih air, kita biasanya mendidihkan air dalam piala gelas dan meletakkan thermometer (alkohol atau raksa) ke dalam air. Kelas dasar ilmu sains biasanya menggunakan thermometer alkohol. Kebanyakan orang meletakkan ujung thermometer ke dalam cairannya ketika mengukur suhunya, dan sebagian besar badan thermometer tidak bersentuhan dengan zat yang mereka ukur. Bahkan kebanyakan thermometer alkohol terbuat dari minyak tanah sebagai pengganti alkohol.

Pada thermometer jenis ini, cairan di dalam tabung kaca yang menyempit (yang memiliki radius homogen) memuai ketika dipanaskan, dan meningkatkan isi dalam tabung. Kemudian panjang cairan berhenti (skala) diasumsikan sebagai suhu yang terukur. Karenanya, jika suhu semua cairan di dalam thermometer tidak sama, kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengukur suhu dengan akurat.
Sebagai contoh, kita selalu bisa mengatakan data mengukur suhu ruangan dengan akurat karena seluruh thermometer berada dalam atmosfer yang sama. Bagaimanapun, ketika mengukur thermometer yang berisi cairan, kita harus selalu memastikan bahwa seluruh tabung kaca terendam dalam zat yang diukur.
Contoh lain, bila Anda mengukur suhu air sungai, pastikan untuk meletakkan seluruh thermometer ke dalam air untuk mendapatkan pembacaan yang akurat.
Karena tidak mudah untuk meletakkan thermometer ke dalam air mendidih, kita harus menggunakan peralatan yang tepat. Gunakan tabung berkerucut yang sedikit lebih tinggi dari thermometer. Letakkan sumbat dengan lubang di mulut tabung sehingga thermometer bisa ditahan dengannya. Isi air dalam tabung, didihkan dan baca thermometer.
Artikel yang sama bisa ditemukan dalam buku teks pegangan mengajar ilmu sains dasar

 

Last Updated ( Tuesday, 27 July 2010 )
Read more...
 
Retaknya Cangkang Telur pada Proses Perebusan Print E-mail
Thursday, 24 June 2010

Kata Kunci: cangkang telur

 Tentunya semua sudah kenal dengan jenis makanan yang satu ini, telur, merupakan makanan kaya akan protein yang hampir sering disajikan setiap kali sarapan pagi. Banyak cara dilakukan oleh orang untuk mengolah telur menjadi suatu makanan diantaranya direbus, digoreng bahkan adapula yang memakannya mentah-mentah seperti yang dilakukan oleh para atlet binaraga. Namun pernahkan di perhatikan, ketika kita merebus telur,kadang telur rebus yang dihasilkan sempurna, adapula telur yang mengalami retak pada cangkangnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sebenarnya fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah.
Apabila kita mengingat-ingat pelajaran Biologi yang diberikan di sekolah menengah pertama, telur tidak hanya tersusun dari kuning telur, putih telur dan kulit telur namun ada beberapa bagian lain, seperti yang terlihat ada gambar di bawah

--Struktur Telur--

Menarik untuk dicermati bagian cangkang dan ruang udara pada gambar di atas untuk menjelaskan fenomena retaknya cangkang telur ini. Bagian cangkang telur ini sebenarnya bukanlah sistem tertutup seperti yang kita bayangkan, namun cangkang telur ini terdiri dari ribuan pori-pori sangat kecil yang memungkinkan karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) keluar dari telur setiap saat dan udara yang kaya akan oksigen (O2) masuk ke dalam telur. Maka dari itu, telur dapat dikatakan bernapas demi menunjang pertumbuhan keping germinal menjadi embrio dan selanjutnya terus berkembang menjadi mahluk hidup (telur menetas). Dengan bertambahnya umur telur, maka ukuran ruang udara akan bertambah besar.
Selama merebus telur, volume ruang udara di dalam telur bertambah seiring dengan meningkatnya suhu. Jika proses perebusan berlangsung terlalu cepat, udara yang terus berkembang volumenya di dalam telur tidak mempunyai cukup waktu untuk keluar dari telur melalui pori-pori cangkang, akibatnya cangkang telur akan mengalami retak. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui hukum gas Charles. Hukum gas Charles menyatakan bahwa gas ideal pada tekanan konstan, volume gas akan berbanding lurus dengan suhu absolutnya (dalam Kelvin), dengan kata lain volume gas akan bertambah jika suhu meningkat, begitu juga sebaliknya, seperti yang terlihat pada ilustrasi di bawah.


Gambar 2. Deskripsi Hukum gas Charles (Sumber gambar: www.zimbio.com/)

Dimana V: volume gas (m3), T: suhu absolut (K), dan k2 :konstanta (m3.K-1)

Hubungan antara volume dan suhu pada gas ideal ini dikemukakan oleh ilmuwan fisika asal perancis, Jacques Charless (1787) dan diverifikasi pada tahun 1802 oleh ilmuwan kimia dari Perancis, Joseph Gay-Lussac. Hukum ini berlaku pula pada peristiwa meletusnya ban kendaraan bermotor yang dibiarkan tersengat oleh sinar matahari terus menerus. Panas matahari menyebabkan suhu ban menjadi naik dan mengakibatkan volume udara di dalam ban semakin bertambah.
Selain fenomena retaknya telur pada proses perebusan di atas, keberadaan ruang udara di dalam telur menyebabkan pula telur tetap mengapung apabila dimasukkan ke dalam suatu wadah berisi air. Ruang udara tersebut cukup untuk memberikan gaya keatas pada telur dan menjaga telur tetap terapung di dalam air.
Masih banyak fenomena alam dan kejadian di sekitar kita lainnya yang bisa dijelaskan dari sudut pandang ilmiah.  Artikel ini kiranya dapat memberikan pencerahan pada kita semua mengenai hubungan sebab akibat yang terjadi disekeliling kita dan menambah rasa syukur pada maha pencipta.

Last Updated ( Tuesday, 13 July 2010 )
Read more...
 
Jatuh Cinta: Dari Hidung Turun ke Hati? Print E-mail
Friday, 11 June 2010
 Netsains.Com - Somerset Maugham, seorang penulis Inggris, pernah menanyai salah seorang pacar H.G. Wells, mengapa seorang laki-laki gemuk, dan berwajah biasa, begitu beruntung dalam mendapatkan para wanita yang cantik? “Badannya memancarkan aroma madu,” ujar gadis itu. Meskipun tidak semua bau badan bisa dikatakan sensual atau jatuh cinta karenanya, bau alamiah yang dikeluarkan oleh manusia mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan, termasuk di dalamnya para ilmuwan di berbagai universitas di dunia.
Jatuh cinta adalah sebuah rasa yang dimiliki seseorang ketika melihat seseorang lainnya yang menarik. Apabila kedua orang ini cocok dan menjadi pasangan, maka rasa ini juga masih ada pada permulaan relasi. Perasaan ini muncul karena di dalam tubuh diproduksi beberapa zat-zat tertentu yang sedikit membius otak dan efeknya bisa disamakan dengan efek narkoba. zat-zat tertentu ini dinamakan feromon. Feromon membuat seseorang kecanduan sehingga ingin melihat pasangannya atau orang idamannya sesering mungkin.
Istilah feromon berasal dari bahasa Yunani yaitu phero yang artinya “pembawa” dan mone “sensasi”. Senyawa feromon sendiri didefinisikan sebagai suatu subtansi kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh mahluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Senyawa feromon pada manusia terutama dihasilkan oleh kalenjar endokrin pada ketiak, telinga, hidung, mulut, kulit, dan kemaluan. Feromone aktif apabila yang bersangkutan telah akil balig.
Sifat dari senyawa ini tidak kasat mata, mudah menguap, tidak dapat diukur, tetapi ada dan dapat dirasakan oleh manusia. Senyawa feromon ini biasa dikeluarkan oleh tubuh saat sedang berkeringat dan dapat tertahan dalam pakaian yang kita gunakan. Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh vomeronasalorgan (VMO) di dalam indra pencium. Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.
Senyawa feromon dapat menimbulkan rasa ketertarikan antara dua orang berlainan jenis dengan bekerja sebagai pemicu dalam reaksi-reaksi kimia, ketika dua orang berdekatan dan bertatapan mata, maka feromon akan tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif yaitu VMO yaitu organ dalam lubang hidung yang mempunyai kepekaan ribuan kali lebih besar daripada indera penciuman.
VMO ini terhubung dengan hipotalamus pada bagian tengah otak melalui jaringan-jaringan syaraf. Setiap feromon berhembus dari tubuh, maka senyawa ini akan tercium oleh VMO dan selanjutnya sinyal ini akan diteruskan ke hipotalamus agar memberikan tanggapan. Dalam hitungan detik, maka akan ada respon dari otak melalui perubahan psikologis tubuh manusia baik itu perubahan pada detak jantung, pernafasan, temperatur tubuh, peningkatan kerja hormon testoteron atau hormon esterogen dan kalenjar keringat.
McClintock dan Kathleen Stern pada tahun 1988 dalam hasil penelitiannya di jurnal Nature menyatakan ada dua jenis feromon yang secara spesifik berpengaruh pada kesamaan siklus haid. Siklus menstruasi terdiri atas tiga fase, yakni menses, pra-ovulasi dan luteal alias pascaovulasi. Salah satu dari feromon dihasilkan oleh perempuan pada fase pra-ovulasi dari siklusnya dan mempercepat ovulasi di fase berikut.
Feromon lain dipancarkan pada saat ovulasi berlangsung. Sinyal ini memiliki efek memperlambat siklus. Hasil akhirnya adalah berupa siklus sejumlah perempuan yang tinggal saling berdekatan. Fenomena feromon sebagai bentuk komunikasi ini lama-lama mulai dicoba diterapkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Terutama sejak ditemukan bahwa feromon juga dihasilkan kelenjar dalam tubuh manusia. Dan yang penting, bisa mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh manusia lainnya.
Feromon pertama ditemukan di Jerman, oleh Adolph Butenandt, ilmuwan yang juga menemukan hormon seks pada manusia yaitu estrogen, progesteron dan testosteron. Ketika pertama kali ditemukan pada serangga, feromon banyak dikaitkan dengan fungsi reproduksi serangga.Para Ilmuwan mula-mula melihat feromon adalah sebagai padanannya `parfum` di dunia manusia.Jean-Henri Fabre pada usia 19 tahun memulai karir sederhananya sebagai guru di Avignon, Perancis.
Sebagai guru ia punya minat yang kuat ke alam. Ia betah duduk berjam-jam mengamati kehidupan-kehidupan kecil yang sibuk sendiri di beranda belakang rumahnya. Bukan cuma duduk diam, Fabre membuat catatan dan eksperimen-eksperimennya sendiri.
Autodidak sejati, Fabre juga melatih dirinya melukis dan membuat illustrasi buat bukunya sendiri. Dari hasil pengamatan dan eksperimennya, Fabre menerbitkan 10 seri ensiklopedia tentang serangga `Souvenirs Entomologiques` yang di kemudian hari diakui sebagai karya klasik dalam dunia akademik Perancis.Charles Darwin, John Stuart Mill dan Louis Pasteur, raksasa-raksasa sains dan filosofi zaman itu mengagumi Fabre karena kecermatan dan detil pengamatannya.
Fabre menghabiskan tahun-tahun berikutnya mempelajari bagaimana ngengat-ngengat jantan menemukan betina-betinanya. Fabre sampai pada kesimpulan kalau ngengat betina menghasilkan zat kimia tertentu yang baunya menarik ngengat-ngengat jantan.Dengan kesimpulan Fabre ini, mulailah seluruh lapangan penelitian baru tentang feromon.
Efek dari senyawa feromon dan senyawa-senyawa kimia lain terhadap tubuh manusia dapatlah disamakan dengan efek narkoba yang akan membuat seseorang kecanduan sehingga ingin melihat pasangannya atau orang idamannya sesering mungkin. Perasaan cinta ini selang beberapa waktu akan menghilang karena produksi senyawa tersebut tidak berlangsung terus menerus. Kemampuan tubuh untuk menghasilkan feromon berkurang setelah dua sampai empat tahun. Akankah cinta kita terhadap pasangan kita akan hilang? Wallahu`alam. ***
Last Updated ( Tuesday, 13 July 2010 )
Read more...
 
<< Start < Prev 51 52 53 54 55 56 57 58 Next > End >>

Results 501 - 510 of 577

Quisioner Layanan Lab.

Quisioner Kepuasan Layanan Lab.

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register
 

Links

 

Testimoni Alumni

KHORIA OKTAVIANI - ANGKATAN 2002: "...walaupun apa yg saya lakukan adalah penggambaran secara makro (bukan bersifat teknis) namun diperlukan dasar2 pengetahuan kimia yg kuat untuk dapat memberikan analisis yang tepat... read more

DESY SETIONINGRUM - ANGKATAN 2004: "ilmu yang saya dapat dari kuliah sangat bermanfaat bagi saya pak karena saya bekerja dilaboratorium dan harus mengenal banyak bahan kimia dan yang berhubungan dengan kimia pak pokoke banyak bermanfaat... read more

THORIKUL HUDA - ANGKATAN 1999: "Saya merasa sangat bersyukur kepada ALLAH SWT yang telah mentakdirkan saya untuk kuliah di Prodi Ilmu Kimia FMIPA UII. Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama menjalani perkuliahan, sehingga sampai saat ini saya masih bisa mengamalkan ilmu yang disampaikan oleh dosen-dosennya... read more

AHMAD HANAFI - ANGKATAN 2002: "UII adalah pilihan terbaik bagi saya".. terutama dalam hal pelayanan, UII adalah nomer "satu"... read more

CECEP SA’BANA RAHMATILLAH - ANGKATAN 2001: "Kuliah di Ilmu Kimia Luar Biasa, Keren... Bagaimana ndak keren?!! selain staf dosennya masih muda2 jadi enak ketika bergaul and curhat... read more 

KHOIRUL HIMMI SETIAWAN - ANGKATAN 2002: "Pengalaman semasa kuliah di Kimia UII sungguh pengalaman yang luar biasa pak, betul-betul luar biasa.. Hal yang paling penting adalah "rasa kedekatan dan kepedulian yang sangat besar" dari Dosen kepada mahasiswa... read more

Artikel

Journal IJMSC

Who's Online

We have 6 guests online

Selamat Datang di Prodi Kimia FMIPA UII

Program Studi Kimia FMIPA-UII adalah salah satu Prodi di Lingkungan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta yang sedang terus mengembangkan diri menuju program studi dengan kualitas pengajaran dan riset yang tinggi berwawasan pada Kearipan Lokal (Local Geneus).

Dr. Is Fatimah
Ketua Program Studi

Dr. Dwiarso Rubiyanto, M.Si.
Sekretaris Program Studi

READ MORE...

Polls

Life Is Chemistry and There Is No Life Without Chemistry...