Sumbangan Metrologi untuk Peradaban
Tuesday, 20 July 2010

 Dengan membaca sepintas lalu judul di atas, terbesit beberapa pertanyaan yang mungkin memotivasi pembaca rela meluangkan waktu untuk terus melanjutkan bacaan sederhana ini.
Pertanyaan sederhana yang biasa saya temukan adalah “Apa sih metrologi itu? yang dimaksud mungkin meteorologi kali…” Pertanyaan ini timbul boleh jadi karena kosakata metrologi hanya dikenal dikalangan akademisi atau institusi tertentu. Padahal setiap kali kita membilang selalu memerlukan ukuran dan takaran guna menggambarkan nilai kandungannya.
Sebagai contoh begini, ibu belanja beras 2 kilogram dan minyak 1 liter di Pasar Rebo yang berjarak 3 kilometer dari rumah dan ditempuh dengan sepeda motor hanya 20 menit. Satuan untuk menakar bilangan-bilangan tersebut adalah bagian penting dalam dunia metrologi dan tidak bisa tidak untuk dihindarkan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian bagi yang terbiasa dengan kosakata metrologi yaitu mereka yang sudah dikenalkan dengan pelajaran Fisika semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (Kelas 7) pada Bab. Besaran dan Satuan  akan bertanya, sumbangan apa yang dapat metrologi berikan bagi peradaban? Pertanyaan ini mungkin menarik bagi mereka karena yang biasa mereka hadapi dengan pelajaran Fisikanya adalah bagaimana menghafal rumus dan bagaimana menggunakannya. Tulisan sederhana berikut akan menggambarkan bahwa pelajaran yang mereka dapati di sekolah telah membangun suatu peradaban jauh sebelum masa sekarang ini.
Metrologi berdasarkan asal katanya bermakna “ilmu pengukuran” yang kemudian meliputi aspek pengukuran secara teori dan eksperimen dalam bidang sains dan teknologi. Secara ilmiah tidak ada bukti pasti kapan manusia mulai melakukan pengukuran, yang dapat dipastikan adalah bahwa manusia mulai membilang saat manusia telah mengembangkan bahasa untuk berkomunikasi. Majunya suatu kebudayaan tidak dapat dipungkiri dimulai saat manusia mengenal tulisan untuk merepresentasikan bahasa yang mereka gunakan. Bangsa mesir kuno telah mengenal tulisan sejak 3500 SM yang dituangkan melalui ukiran-ukiran diatas batu, kayu, tulang atau papyrus. Bukan hanya aksara namun angka yang digunakan untuk membilang-pun tak luput untuk dilambangkan. Aksara dan angka menjadi suatu alat komunikasi dan alat perekam peradaban.
Rekaman sejarah menunjukan bahwa megahnya piramid di Mesir sebagai bentuk peradaban budaya mesir kuno terstruktur bukan berdiri tanpa pengukuran. Mereka telah mengenal satuan ukur cubit sebagai satuan panjang untuk keperluan pembangunan maupun perdagangan. Satuan ukur panjang ini merupakan representasi dari panjang lengan bagian depan raja Firaun yang sedang berkuasa, diukur dari siku sampai ujung jari tengah ditambah lebar tangannya.
Panjang cubit kerajaan ini menjadi regulasi penting untuk mendefinisikan satuan panjang yang dimiliki oleh para insinyur, arsitek maupun pedagang. Bahkan hukuman matipun tak segan dilayangkan oleh Firaun bagi mereka yang lupa untuk membandingkan (baca:mengkalibrasi) besaran ukur mereka dengan satuan standar cubit kerajaan pada setiap bulan purnama.
Penyebaran besaran cubit ini dilakukan ke dalam bentuk alat ukur yang dipahat pada granit hitam atau kayu, dimana tanggung jawab penyebarannya dilakukan oleh para ilmuan pada masa itu. Sehingga tidaklah mengherankan jika salah satu keajaiban dunia seperti Piramid Mesir yang berukuran sisi 236,22 m memiliki kesalahan rata-rata hanya 15 mm.
Lain di Mesir lain pula di Indonesia, salah satu keajaiban dunia lainnya yang patut kita banggakan sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia sendiri adalah Candi Borobudur. Susunannya yang teratur dan tak kalah megah dengan keajaiban dunia lainnya membuat daya tarik tersendiri tak hanya bagi masyarakat Indonesia namun juga masyarakat dunia. Menurut sejarah, Candi borobudur dibangun antara 750 M – 850 M oleh Wangsa Sailendra, ditemukan oleh Gubernur Jendral Britania Raya Sir Thomas Stampford Raffles pada tahun 1814. Saat itu Candi Borobudur masih berupa bukit yang dipenuhi semak belukar terkubur selama berabad-abad oleh lapisan debu vulkanik.
Lanjut cerita pada masa pemugaran Candi, beberapa patung Budha didapati tanpa kepala. Sehingga dalam usaha untuk memastikan pasangan kepala dengan badan dilakukan pengukuran diameter leher patung yang diukur pada delapan arah. Jika rancangan awal pahatan leher patung diasumsikan berbentuk lingkaran, maka diperoleh rata-rata standar deviasi pengukuran sebesar 5.85 mm. Sedikit informasi pengukuran ini membuat kita kagum bahwa pada kala itu seniman pemahat patung Budha telah memperhitungkan dimensi lengkung dengan keakuratan yang memadai pada zamannya. Tentunya pada skala makro pembuatan Candi, dimungkinkan pengukuran yang akurat dan presisi sehingga diperoleh bangunan candi yang teratur, megah dan menawan.

Sumber

Pusaka J. Orasi Pengukuhan APU Bidang Metrologi, “Tiada Bentuk Tanpa Ukuran, Tiada Ukuran Tanpa Standar Satuan Panjang.” (http://katalog.pdii.lipi.go.id/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/7163/7163.pdf).

EURAMET project 1011, “Metrology in Short.” 3rd edition. (http://resource.npl.co.uk/international_office/metrologyinshort.pdf).

http://www.google.co.id/

Kemudian bagi yang terbiasa dengan kosakata metrologi yaitu mereka yang sudah dikenalkan dengan pelajaran Fisika semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (Kelas 7) pada Bab. Besaran dan Satuan  akan bertanya, sumbangan apa yang dapat metrologi berikan bagi peradaban? Pertanyaan ini mungkin menarik bagi mereka karena yang biasa mereka hadapi dengan pelajaran Fisikanya adalah bagaimana menghafal rumus dan bagaimana menggunakannya. Tulisan sederhana berikut akan menggambarkan bahwa pelajaran yang mereka dapati di sekolah telah membangun suatu peradaban jauh sebelum masa sekarang ini.
Metrologi berdasarkan asal katanya bermakna “ilmu pengukuran” yang kemudian meliputi aspek pengukuran secara teori dan eksperimen dalam bidang sains dan teknologi. Secara ilmiah tidak ada bukti pasti kapan manusia mulai melakukan pengukuran, yang dapat dipastikan adalah bahwa manusia mulai membilang saat manusia telah mengembangkan bahasa untuk berkomunikasi. Majunya suatu kebudayaan tidak dapat dipungkiri dimulai saat manusia mengenal tulisan untuk merepresentasikan bahasa yang mereka gunakan. Bangsa mesir kuno telah mengenal tulisan sejak 3500 SM yang dituangkan melalui ukiran-ukiran diatas batu, kayu, tulang atau papyrus. Bukan hanya aksara namun angka yang digunakan untuk membilang-pun tak luput untuk dilambangkan. Aksara dan angka menjadi suatu alat komunikasi dan alat perekam peradaban.
Rekaman sejarah menunjukan bahwa megahnya piramid di Mesir sebagai bentuk peradaban budaya mesir kuno terstruktur bukan berdiri tanpa pengukuran. Mereka telah mengenal satuan ukur cubit sebagai satuan panjang untuk keperluan pembangunan maupun perdagangan. Satuan ukur panjang ini merupakan representasi dari panjang lengan bagian depan raja Firaun yang sedang berkuasa, diukur dari siku sampai ujung jari tengah ditambah lebar tangannya.
Panjang cubit kerajaan ini menjadi regulasi penting untuk mendefinisikan satuan panjang yang dimiliki oleh para insinyur, arsitek maupun pedagang. Bahkan hukuman matipun tak segan dilayangkan oleh Firaun bagi mereka yang lupa untuk membandingkan (baca:mengkalibrasi) besaran ukur mereka dengan satuan standar cubit kerajaan pada setiap bulan purnama.
Penyebaran besaran cubit ini dilakukan ke dalam bentuk alat ukur yang dipahat pada granit hitam atau kayu, dimana tanggung jawab penyebarannya dilakukan oleh para ilmuan pada masa itu. Sehingga tidaklah mengherankan jika salah satu keajaiban dunia seperti Piramid Mesir yang berukuran sisi 236,22 m memiliki kesalahan rata-rata hanya 15 mm.
Lain di Mesir lain pula di Indonesia, salah satu keajaiban dunia lainnya yang patut kita banggakan sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia sendiri adalah Candi Borobudur. Susunannya yang teratur dan tak kalah megah dengan keajaiban dunia lainnya membuat daya tarik tersendiri tak hanya bagi masyarakat Indonesia namun juga masyarakat dunia. Menurut sejarah, Candi borobudur dibangun antara 750 M – 850 M oleh Wangsa Sailendra, ditemukan oleh Gubernur Jendral Britania Raya Sir Thomas Stampford Raffles pada tahun 1814. Saat itu Candi Borobudur masih berupa bukit yang dipenuhi semak belukar terkubur selama berabad-abad oleh lapisan debu vulkanik.
Lanjut cerita pada masa pemugaran Candi, beberapa patung Budha didapati tanpa kepala. Sehingga dalam usaha untuk memastikan pasangan kepala dengan badan dilakukan pengukuran diameter leher patung yang diukur pada delapan arah. Jika rancangan awal pahatan leher patung diasumsikan berbentuk lingkaran, maka diperoleh rata-rata standar deviasi pengukuran sebesar 5.85 mm. Sedikit informasi pengukuran ini membuat kita kagum bahwa pada kala itu seniman pemahat patung Budha telah memperhitungkan dimensi lengkung dengan keakuratan yang memadai pada zamannya. Tentunya pada skala makro pembuatan Candi, dimungkinkan pengukuran yang akurat dan presisi sehingga diperoleh bangunan candi yang teratur, megah dan menawan.

Sumber

Pusaka J. Orasi Pengukuhan APU Bidang Metrologi, “Tiada Bentuk Tanpa Ukuran, Tiada Ukuran Tanpa Standar Satuan Panjang.” (http://katalog.pdii.lipi.go.id/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/7163/7163.pdf).

EURAMET project 1011, “Metrology in Short.” 3rd edition. (http://resource.npl.co.uk/international_office/metrologyinshort.pdf).

http://www.google.co.id/

Last Updated ( Tuesday, 20 July 2010 )