Uji Cathinone, Prodi Ilmu Kimia UII bisa!
Monday, 04 February 2013
 Cathinone mendadak menjadi buah bibir masyarakat Indonesia setelah tujuh orang ditahan usai penggerebekan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) di rumah seorang artis di Jakarta Selatan. Dua orang di antaranya dinyatakan terindikasi mengonsumsi zat tersebut.
Menurut pakar kimia UII, Riyanto, M.Si.,Ph.D., Cathinone dalam dunia kimia sesungguhnya bukan jenis obat-obatan baru, akan tetapi karena jarang yang memakainya maka banyak orang kurang mengenalinya.
“Sejauh ini orang lebih mengenal sabu-sabu dan sejenisnya, sehingga obat berbahaya seperti Cathinone dinilai sebagai narkoba jenis baru.” Ungkapnya.
Riyanto menjelaskan proses identifikasi terhadap pengguna Cathinone cukup sulit dan rumit. Sehingga tidak mengherankan dalam kasus penggrebekan di rumah artis beberapa waktu lalu BNN relatif lama menentukan seseorang yang dinyatakan posistif menggunakan zat berbahaya tersebut. Namun menurutnya UII sudah memiliki alat yang bisa mendeteksinya.
“Selain membutuhkan alat yang canggih, perlu didukung oleh sumber daya yang kompeten untuk menganalisisnya. Dengan bantuan alat mutakhir yang sudah dimiliki, UII bisa dan siap mengidentifikasinya melalui uji lab” Ungkapnya sambil menunjukkan lab tempatnya bekerja.
Dikatakan Riyanto, secara umum komposisi yang terkandung di dalam Cathinone di antaranya meliputi gugus Benzene, gugus Keton, dan gugus Amina. sehingga apabila dikonsumsi tanpa memperhatikan dosis dokter akan membahayakan bagi penggunanya. Bahkan banyak penelitian menyebutkan semua jenis obat-obatan yang mengandung Benzene terdapat racun di dalamnya. “Jika digunakan tanpa dosis dokter akan membuat orang kecanduan dan membahayakan hingga menyebabkan ginjal akut.” Tegasnya.
Apabila ditelususuri Cathinone bisa didapatkan melalui cara sintetik yang kemudian berbentuk serbuk kristal putih atau kecoklatan. Adapun yang non sintetik atau secara alami, cathinone terkandung dalam khat (Catha edulis Forsk), tumbuhan semak yang banyak terdapat di Afrika timur dan tengah serta sebagian Jazirah Arabia. Daun khat sejak dulu dikonsumsi dengan cara dikunyah, dibuat jus, atau diseduh seperti teh oleh penduduk di wilayah itu. “Orang yang mengkonsumsi tumbuhan tersebut akan merasa tenang dan bergembira.” Katanya.
Riyanto menjelaskan proses identifikasi terhadap pengguna Cathinone cukup sulit dan rumit. Sehingga tidak mengherankan dalam kasus penggrebekan di rumah artis beberapa waktu lalu BNN relatif lama menentukan seseorang yang dinyatakan posistif menggunakan zat berbahaya tersebut. Namun menurutnya UII sudah memiliki alat yang bisa mendeteksinya.
“Selain membutuhkan alat yang canggih, perlu didukung oleh sumber daya yang kompeten untuk menganalisisnya. Dengan bantuan alat mutakhir yang sudah dimiliki, UII bisa dan siap mengidentifikasinya melalui uji lab” Ungkapnya sambil menunjukkan lab tempatnya bekerja.
Dikatakan Riyanto, secara umum komposisi yang terkandung di dalam Cathinone di antaranya meliputi gugus Benzene, gugus Keton, dan gugus Amina. sehingga apabila dikonsumsi tanpa memperhatikan dosis dokter akan membahayakan bagi penggunanya. Bahkan banyak penelitian menyebutkan semua jenis obat-obatan yang mengandung Benzene terdapat racun di dalamnya. “Jika digunakan tanpa dosis dokter akan membuat orang kecanduan dan membahayakan hingga menyebabkan ginjal akut.” Tegasnya.
Apabila ditelususuri Cathinone bisa didapatkan melalui cara sintetik yang kemudian berbentuk serbuk kristal putih atau kecoklatan. Adapun yang non sintetik atau secara alami, cathinone terkandung dalam khat (Catha edulis Forsk), tumbuhan semak yang banyak terdapat di Afrika timur dan tengah serta sebagian Jazirah Arabia. Daun khat sejak dulu dikonsumsi dengan cara dikunyah, dibuat jus, atau diseduh seperti teh oleh penduduk di wilayah itu. “Orang yang mengkonsumsi tumbuhan tersebut akan merasa tenang dan bergembira.” Katanya.
Last Updated ( Monday, 04 February 2013 )