{"id":2220,"date":"2022-01-05T08:14:56","date_gmt":"2022-01-05T08:14:56","guid":{"rendered":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/?p=2220"},"modified":"2022-01-05T08:14:56","modified_gmt":"2022-01-05T08:14:56","slug":"cream-herbal-anti-jerawat-temuan-lulusan-pertama-magister-kimia-uii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/2022\/01\/05\/cream-herbal-anti-jerawat-temuan-lulusan-pertama-magister-kimia-uii\/","title":{"rendered":"Cream Herbal Anti Jerawat, Temuan Lulusan Pertama Magister Kimia UII"},"content":{"rendered":"\n<style type=\"text\/css\" data-created_by=\"avia_inline_auto\" id=\"style-css-av-ky19hj8s-6d5f50f0b407c1e9133624a02e557095\">\n#top .av-special-heading.av-ky19hj8s-6d5f50f0b407c1e9133624a02e557095{\npadding-bottom:10px;\n}\nbody .av-special-heading.av-ky19hj8s-6d5f50f0b407c1e9133624a02e557095 .av-special-heading-tag .heading-char{\nfont-size:25px;\n}\n.av-special-heading.av-ky19hj8s-6d5f50f0b407c1e9133624a02e557095 .av-subheading{\nfont-size:15px;\n}\n<\/style>\n<div  class='av-special-heading av-ky19hj8s-6d5f50f0b407c1e9133624a02e557095 av-special-heading-h3  avia-builder-el-0  el_before_av_textblock  avia-builder-el-first '><h3 class='av-special-heading-tag '  itemprop=\"headline\"  >Cream Herbal Anti Jerawat, Temuan Lulusan Pertama Magister Kimia UII<\/h3><div class=\"special-heading-border\"><div class=\"special-heading-inner-border\"><\/div><\/div><\/div>\n<section  class='av_textblock_section av-ky19kmh0-fd68b82457cef86b6e3d57ee2e22f8f5 '   itemscope=\"itemscope\" itemtype=\"https:\/\/schema.org\/BlogPosting\" itemprop=\"blogPost\" ><div class='avia_textblock'  itemprop=\"text\" ><p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cream Herbal Anti Jerawat<\/strong> merupakan temuan dokter Puthut Mahaendro Dananjoyo. Penemuan ini diperoleh saat ia menyusun tesis pada Program Studi Magister Kimia (PSMK), Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Islam <a href=\"https:\/\/menara62.com\/tag\/Indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Indonesia<\/a> (UII). Temuan tersebut mengantarkan Puthut Mahaendro menjadi lulusan pertama pada Program Magister Kimia UII setelah dinyatakan lulus ujian tesis, Selasa (28\/12\/2021).<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/menara62.com\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/Puthut-Menara.jpeg\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cream Herbal Anti Jerawat yang berupa salep ini merupakan <em>treatment natural<\/em> karena berbahan baku pala dan jintan hitam. Bahkan salep ini sudah dilakukan beberapa kali uji coba. \u201cHasilnya, salep ini sudah bisa membunuh bakteri dan mengurangi radang pada jerawat,\u201d kata Puthut Mahaendro.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Puthut mengangkat judul tesis \u2018Ekstraksi Kombinatif Minyak Atsiri Biji Pala (<em>Myristrica fragrans<\/em>) dan Jintan Hitam (<em>Nigella sativa<\/em>) dengan Metode <em>Microwave Assisted Distilation<\/em> serta Potensinya sebagai Agen Anti Jerawat.\u2019 Pala memiliki zat aktif <em>mistisin<\/em> dan Jintan Hitam mengandung <em>timofinon<\/em>, sebetulnya bila dikonsumsi sendiri-sendiri sudah memiliki efek yang bagus.<span id=\"more-119089\"><\/span><br \/>\nNamun Puthut menggabungkan dua bahan tersebut karena memiliki senyawa yang mirip. Kemudian pemrosesannya menggunakan sistem destilasi (<em>assisted distilation<\/em>) dan bantuan <em>microwaved<\/em> sehingga hasilnya lebih bagus. \u201cKetika kita uji, antiinflasmi dan antibakterial hasilnya lebih bagus dibandingkan dengan dikonsumsi sendiri-sendiri,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Puthut Mahaendro yang lahir tahun 1986 ini menyelesaikan studi di SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah. Kemudian melanjutkan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan lulus tahun 2011.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah lulus dokter, Puthut bekerja di perusahaan farmasi <a href=\"https:\/\/menara62.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a>. Ia mendapat tugas memegang produk atau obat-obatan untuk penyakit jantung. \u201cKerjanya memberi penjelasan tentang obat penyakit jantung kepada pegawai farmasi agar bisa memasarkannya kepada dokter-dokter dan apotek-apotek,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Di perusahaan farmasi, Puthut hanya bertahan selama dua tahun. Kemudian ia pindah ke Klinik Kecantikan Natasha Skin Care Yogyakarta. Saat bertugas di sini, Puthut mendapatkan informasi Program Magister Kimia UII menerima pendaftaran calon mahasiswa baru. Puthut yang sudah menyenangi ilmu kimia sejak duduk di bangku SMA ingin memperdalamnya di Magister Kimia UII.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya sudah kenal kimia sejak dari SMA. Menurut saya, kimia merupakan <em>basic<\/em> dari semua <em>science<\/em>. Kalau kita kenal <em>basic<\/em>-nya, akan lebih mudah mengerjakan ilmu yang lain-lain. Ilmu kimia terkoneksi pada semua cabang ilmu,\u201d kata Puthut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain alasan tersebut, Puthut yang berasal dari keluarga dokter juga ingin memiliki keahlian lain dan tidak sama dengan kakak serta adiknya. Kakak dan adiknya sudah mengambil pendidikan dokter spesialis sehingga Puthut mencari keahlian yang berbeda. Tempat kerjanya di Klinik Kecantikan Nathasa Skin Care juga memberikan atmosfir untuk mengikuti pendidikan di Magister Kimia UII.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Puthut masuk Magister Kimia UII bulan Juli 2019. Ia sempat mengikuti kuliah secara luar jaringan (Luring) atau tatap muka selama satu semester. Kemudian merebaknya Covid-19, kuliah dilaksanakan secara dalam jaringan (Daring). Bahkan Klinik Natasha Skin Care, tempat Puthut bekerja juga ditutup sementara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian Puthut kembali ke Semarang dan mengikuti kuliah secara Daring. Selama di Semarang, Puthut juga bekerja sebagai dokter di Klinik kakak atau adiknya. \u201cSaya dapat kuliah <em>offline<\/em> itu hanya satu semester,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat kuliah secara <em>online<\/em>, Puthut merasakan kurang mendapatkan pengalaman. \u201cKalau pas <em>offline<\/em> itu enak, kita bisa ketemu profesor dan bisa sharing secara langsung. Teman-teman juga enak, mereka <em>welcome<\/em> semua. Atmosfirnya sangat mendukung. Tidak usah khawatir dan kalau ada masalah tinggal bilang sama administratornya (Mas Hakim) sehingga bisa terpecahkan semua,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses pembuatan Cream Hebal Anti Jerawat, Puthut menggunakan bahan pala dan jintan hitam. Ia menggunakan <em>microwave assisted distillation<\/em> untuk mengekstrak minyak atsiri dari kedua bahan tersebut dan dipelajari dengan menggunakan <em>Response Surface Methodology<\/em> (RSM). <em>Central Composit Design<\/em> (CCD) digunakan untuk menilai pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap kadar <em>timokuinon<\/em> dan <em>miristisin<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selanjutnya, komposisi kimia minyak atsiri diteliti dengan menggunakan G<em>as Chromatografv Mass Spectrometry.<\/em> Penelitan ini juga membandingkan efektivitas antara distilasi uap dan<em> microwave assisted distillation<\/em> terhadap efisiensi setiap prosedur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Minyak atsiri yang diperoleh diukur efek antiinflamsinya dan diubah menjadi sediaan salep 10%. Aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan metode stabilisasi membran sel darah merah yang diinduksi hipotonisitas. Aktivitas antibakterial salep diukur dengan metode difusi cakram.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam penelitian ini didapatkan hasil opumasi kondisi distilasi pada suhu 124 derajat Celsius selama 120 menit. <em>Microwave assisred distillation<\/em> menghasilkan rendemen yang tidak berbeda signifikan dengan distilasi uap dengan waktu yang lebih singkat dan lebih hemat energi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Senyawa miristisin dan timokuinon yang didapat juga lebih tinggi dengan <em>microwave assisted distillation.<\/em> Salep dari minyak atsiri kombinasi ini memiliki efek antiinflamasi yang tidak berbeda signifikan dengan natrium diklofenak dengan 65.78% daya hambat <em>lisis eritrosit<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, memiliki efek antibakterial terhadap <em>Propionibacterium acnes<\/em> yang tidak berbeda signifikan dengan klindamisin 1% dengan luas zona hambat 17.67 mm. \u201cMinyak atsiri kombinasi pala dan jintan hitam ini berpotensi sebagai agen anti jerawat,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam proses ekstrasi, Puthut memodifikasi peralatan dengan bantuan magnetron mengunakan <em>microwave.<\/em> Magnetron ini memiliki kemampuan untuk menggerakkan partikel secara cepat, senyawa yang keluar dari pala dan jintan hitam lebih banyak. Sehingga cara ini dinilainya lebih efisien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cProses ini lebih ramah lingkungan. Mengapa? Pertama, waktu lebih cepat. Sehingga kebutuhan listrik (watt) lebih kecil. Kedua, efek pembakaran CO2 (Carbon Dioksida) yang membuat pemanasan global jauh lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan penyulingan uap. Ini akan terasa manfaatnya bila dilakukan pada skala industri. Pemanasan global berkurang, pemanfaatan energi (<em>cost<\/em>) lebih ringan,\u201d ujarnya. (*)<\/p>\n<\/div><\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":3,"featured_media":2221,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2220","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2220","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2220"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2220\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2223,"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2220\/revisions\/2223"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2221"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/chemistry.uii.ac.id\/master\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}