WORKSHOP KEWIRAUSAHAAN KIMIA SERIES #1

Senin, 24 Oktober 2022 Program Studi Kimia Program Magister telah sukses menyelenggarakan Workshop Kewirausahaan Kimia Series #1 dengan Tema “Dari Riset Jadi Omset”. Workshop ini dilaksanakan secara daring (online) melalui Zoom Meeting dan dihadiri lebih dari 70 peserta baik dari mahasiswa maupun dari kalangan umum.

Acara workshop ini mendatangkan narasumber bertaraf internasional, yaitu CEO Naruna Keramik, Roy Wibisono, S.Si. Beliau merupakan lulusan dari Kimia Undip pada tahun 1998. Beliau sempat bekerja sebagai peneliti di sebuah pabrik keramik dan perusahaan tambang.

Pada saat ini beliau menekuni pada bidang keramik home made yang memiliki ciri khas bentuk unik, lebih kuat, tahan gores, microwave safe. Menurutnya, kekuatan orang kimia adalah pada ilmu yang didapatkannya harus diperdalam dengan riset. Dari riset yang dilakukan, Roy Wibisono dapat menciptakan produk dengan warna yang berbeda dari pasaran yang sudah ada dengan memadukan dengan material lain, sehingga di saat pandemi pada Tahun 2020 lalu, Naruna Keramik justru mendapatkan omset yang semakin melejit sedangkan UKM lain mengalami penurunan omset. Naruna Keramik keramik membandrol harga produknya (cangkir) dengan harga 22x lipat dari harga cangkir biasa dan mendapatkan kenaikan omset sebesar 2200% pada masa pandemi.

Roy Wibisono merupakan salah satu penerima anugerah Ristek Dikti Tahun 2017 sebagai peneliti. Naruna Keramik telah banyak menerima penghargaan dan juga memenangkan banyak kompetisi. Hal ini diklaim oleh Roy Wibisono bahwa semua ini didapatkan dari keunggulan mereka dalam hal riset bahan dan marketing pasar.

Hal ini tentunya memotivasi banyak masyarakat untuk bisa memulai bisnis yang memiliki keunggulan dan karakter sendiri dengan kualitas yang terbaik tentunya.

Workshop ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan tips dan trik masukan yang diberikan CEO Naruna Keramik.

Workshop Kewirausahaan Kimia Series #1 ini akan dilanjutkan dengan workshop series berikutnya yang akan mendatangkan narasumber-narasumber lain yang tidak kalah menarik. Hal ini dapat dipantau melalui akun Instagram magister kimia di @magisterkimia_uii.

 

Prodi Magister Kimia UII Cetak Lulusan Perdana

Mahasiswa Prodi Magister Kimia Mengikuti Studium Generale Program Magister, Doktor dan Profesi Universitas Islam Indonesia

Guru Besar Ilmu Kimia UII Tembus ke Jajaran Top 2% World Ranking Scientists

Enam ilmuwan asal Indonesia berhasil masuk ke jajaran Top 2% World Ranking Scientists. Salah satunya, Prof Dr Is Fatimah, SSi, Msi yang merupakan Guru Besar Ilmu Kimia Universitas Islam Indonesia (UII). Sebagai informasi, Top 2% World Ranking Scientists merupakan kompetisi berbasis riset yang diolah oleh peneliti dari Stanford University, yaitu Profesor John Ioannidis, Jeroen Baas, dan Kevin Boyack. Fatimah mengaku tidak mengetahui bahwa risetnya tembus dalam ajang bergengsi tersebut. Bahkan, ia tak menyadari kalau ada pemeringkatan seperti itu. Mesk demikian, beberapa waktu belakangan, nama pemeringkatan ini kerap dilihatnnya dari universitas-universitas yang merilis nama dosen dan peneliti yang berpartisipasi dalam Top 2% World Ranking Scientists. “Saya justru mendapat informasi tersebut dari kolega-kolega peneliti di Malaysia dan India. Sampai Sabtu (21/11/2020) sore kemudian kolega dari India mengucapkan selamat kepada saya. Saya malah baru (benar-benar) tahu itu apa dan bagaimana dan sumbernya di mana,” ungkap Fatimah dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (27/11/2020). Soal prestasi dalam bidang penelitian, penghargaan tersebut bukanlah satu-satunya yang berhasil disabet Fatimah. Guru besar wanita pertama di UII itu sebelumnya sempat meraih The World Academy of Science Research Grant 2015-2016 dan Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) Research Grant 2016. Di balik pencapaiannya itu, Fatimah berharap akan ada banyak ilmuwan yang terus maju memberikan kontribusi dalam bentuk penelitian. Ini mengingat keberadaan Indonesia masih tertinggal jauh dari India yang telah mengirimkan 1.500 peneliti dalam Top 2% World Ranking Scientists. “Mengingat saat ini banyak dosen muda di UII dan para pengajar lain yang sebentar lagi pulang dari studi lanjut, saya yakin dalam 10 tahun ke depan akan banyak peneliti-peneliti dosen dari UII yang masuk kategori tersebut,” ujar Fatimah. Sebagai rektor UII, Profesor Fathul Wahid, ST, MSc, PhD merespons kabar baik dari salah satu tenaga pengajarnya tersebut. “Keluarga besar UII bersyukur atas pencapaian Profesor Is Fatimah. Ini adalah hasil, bukan tujuan, atas ketekunan mengerjakan pekerjaan rumah sebagai dosen. Utamanya, dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Saya berharap, capaian ini menjadi energi positif dan menyebar sehingga dapat menginspirasi (dosen) yang lain,” tutur Fathul. Fathul mengaku, ia sebenarnya sudah tak heran dengan prestasi Fatimah itu. Sebab, Fatimah pernah menjadi Dosen Terproduktif UII Peringkat I dan penulis karya berindeks Scopus dengan jumlah setidaknya 1.325 sitasi dan memperoleh 15 indeks-h. Fatimah, tambah Fathul, juga giat menulis buku dan telah menerbitkan sembilan judul buku dengan empat hak paten. Pengalaman riset Fatimah pun tak sedikit, yakni lebih dari 20 judul riset dan lebih dari 80 jumlah publikasi ilmiah. “Ia memberikan fokus penelitiannya dalam bidang material, nanoteknologi, energi, mesin dan transportasi,” kata Fathul. Fathul juga yakin bahwa keberadaan Fatimah di lingkungan UII membuat siapa saja ingin mengikuti jejak prestasinya. Motivasi dalam mengembangkan diri telah menjadi aktivitas sehari-hari bagi Profesor Is Fatimah. Namun, ia mengimbau agar para dosen mampu menciptakan penelitian berkualitas sehingga dapat “naik kelas”. Setidaknya, diperlukan dua kunci utama, yaitu kolaborasi dan strategi. “Keterbatasan instrumentasi yang ada sebenarnya sangat terbantu dengan kolaborasi, sehingga mengandalkan kolaborasi adalah strategi yang tampaknya penting,” imbuhnya.

Sumber: baca: https://biz.kompas.com/read/2020/11/29/174514428/guru-besar-ilmu-kimia-uii-tembus-ke-jajaran-top-2-world-ranking-scientists.